Inget dulu pernah ada bahasan, ‘kenapa kalimat syahadat tuh tiada tuhan selain Allah? kenapa ngga Allah adalah Tuhan aja?’ karena kan intinya sama-sama Tuhan?

Ternyata walau keliatannya sama tapi maknanya jauh beda. Yang pertama, ada satu point yang paling digaris bawahi yaitu kalimat “tidak ada” yang artinya ga boleh ada yang sejajar sama Allah. Sementara di kalimat kedua; Allah adalah Tuhan, ga ada larangan untuk menempatkan apapun/siapapun sejajar dengan ‘tuhan’, asalkan Allah menjadi salah satunya. Dan yang pertama-lah yang Allah minta; untuk menjadikan Dia satu-satunya aja.

Ini juga alasan kenapa orang Quraisy yang mengakui tuhannya Allah tapi mereka malah bukan tergolong orang beriman. Yaitu karena walaupun buat mereka Allah itu nomer satu, tapi ada nomer satu lainnya lagi yaitu berhala yang mereka sembah; latta, uzza, manat. Padahal kan keduanya sama-sama ada Allah-nya, tapi ternyata buat Allah ini tuh ga sama. Justru paling penting dalam mengimani Allah adalah meniadakan semua tuhan tuhan lainnya selain Allah.

Tuhan-tuhan lain bukan hanya berupa berhala seperti yang dimiliki orang Quraisy, bisa jadi itu adalah manusia lainnya, ego kita, keinginan kita, hawa nafsu kita, dan seterusnya. Jadi ngeuh juga kenapa sih kita tuh ga boleh taklid/sangat suka sama sesuatu walaupun itu dipuja banyak orang dan disukai semua orang? Ya karena takutnya hal hal itu menempati ‘ranking satu’ buat kita sejajar atau melebihi posisi Allah dalam hati.

Allah sebagai Tuhan semesta tentu sudah sangat jelas, tapi Allah sebagai Tuhan buat diri kita personal masing-masing itu urusannya beda dan ga bisa dijawab ngasal ‘iya’ sebatas mulut padahal di rutinitas kita ga ada yang inget Allah sama sekali.

Misalnya pun keluarga atau orang terdekat kita, jangan sampai kecintaannya melebihi ke Allah. Dicontohkan oleh Nabi Ibrahim yang sudah membawa Ismail untuk dikurbankan (walau akhirnya diganti oleh Allah). Beliau yang sayang banget sama Ismail, kalau sama Allah udah disuruh, tetep nurut sama Allah walau harus mengorbankan anaknya.

Kita juga bisa bertanya ke diri sendiri, seluruh aktivitas tuh siapa sih dan apa sih yang men-drive kita?

Bisa jadi itu adalah materialistis; atau kesukaan terhadap suatu lagu/artis/film (disini juga ku agak refleksi sih ya); atau manusia lainnya; bisa jadi ego kita (ga mau disalahkan orang, ingin selalu terlihat baik dimata semua orang); atau hal hal lain yang ga disadari menempati seluruh ruang hati kita.

Buatku justru ini bagus banget ga sih untuk mental kita.

Disaat kita udah bisa detach dari segala hal materialistis dan duniawi, dari segala anggepan orang, justru disitulah saat-saat dimana hati kita kosong dan harus segera diisi sama kecintaan kita ke Allah.

Dan kenapa bagus buat mental juga, karena saat kita ‘berpegang’ dan didominasi oleh hal yang paling tak terkalahkan dan tak akan menyakiti kita, maka kita akan kuat dan mau jalan hidup segimanapun juga tetep bisa bertahan dan ga gampang stress. Karena kita udah tenang bahwa kita punya hubungan yang baik sama Allah yang menjamin segalanya dan ga akan meninggalkan.

Coba kalau misalnya hati kita penuh sama manusia. Manusia mau sebaik apapun dia pasti ada celah untuk menyakiti secara sadar ataupun nggak, karena manusia adalah makhluk yang ga mungkin sempurna. Misalnya aku deh, saat bucin sama taytay di tingkat paling maksimal, bisa jadi aku menonton dengan excessive segala hal berkaitan dengan dia, buang-buang waktu untuk itu, dia ada masalah malah ikut kebawa baper, dan ga ada dampak signifikan buat diri sendiri.

Juga sama misalnya menyukai seseorang sampe yang bucin banget, padahal manusia selalu punya chance untuk meninggalkan dan menyakiti kita. Atau misalnya harta, ketika otak kita terlalu berorientasi sama harta, padahal bisa jadi nanti kena tipu, usaha bangkrut, dan segala macamnya. Makanya saat hal hal itu ada di ranking satu di hati kita, saat disakiti, kita bisa langsung down yang ga ada ujung. Beda kalau the top position of our heart itu Allah. Mau seluruh dunia menjahati kita, itu ga akan ngaruh karena udah punya Allah yang selalu menemani dan yakin Allah akan ngasih jalan keluar.

Kenapa sih kita bisa nangis dan merasa down? Karena hal-hal prioritas penting buat kita sedang ‘terganggu’. Kenapa kita mudah sedih dan emosional kalau ada masalah keluarga? Karena keluarga menempati hati kita. Kenapa kita bodo amat saat ada kerusuhan di negara X? Karena buat kita itu ga penting. Maka kita bisa pilih ‘hal-hal penting dan prioritas’ yang bisa membuat kita up and down. Tapi yang paling utama adalah menjadikan hal paling prioritas itu sesuatu yang ga bikin kita up and down dengan extrim; ya hanya Allah.

Makanya lagi, kalo ga salah di Al-Baqoroh dibilang bahwa hadiah paling besar dan paling pertama yang Allah janjikan buat orang beriman itu bukan dunia dan seisinya, tapi adalah satu; ketenangan hati.

Kalo orang udah inner-peace nya dan hatinya memiliki prioritas HANYA Allah, maka dia bakal tenang mau gimanapun kehidupannya. Dia juga yakin, kalaupun didunia dia diperlakukan tidak adil, dan banyak takdir yang mengharuskan dia bersabar, dia tetep hidup senang dan tenang karena sudah tahu bahwa ada kehidupan Akhirat yang menjadi penawar buat semua rasa sakit dia didunia.

Saat orang bilang agama dan depresi itu berbeda, iya sangat berbeda jika kita hanya menganggap agama sebatas ritual sholat dan shaum. Yang ada malah orang jadi males.

Tapi saat agama menjadi state of mind dan hubungan ke Allah kita jaga bukan hanya saat kita lagi down, maka menurutku, itu sangat sangat sangat helpful.