When we were young

Aku sadar betul bahwa waktu tidak akan kembali.

smp

Minggu-minggu terakhir sewaktu sekolah menengah pertama, aku habiskan setiap detiknya dengan mindfullness dan awareness yang tinggi. Menyusuri sungai bersama teman-teman setiap hendak menuju angkot. Kalau sedang hujan, kami hujan-hujanan dan meloncati setiap becekan agar semua teman kena cipratannya. Sambil sedikit berat, aku sadar betul bahwa hal-hal itu tidak akan terulang lagi. Tahun depan akan berbeda. Tahun depan aku akan menemui teman baru dan lingkungan baru. Keusilan masa smp, rasanya dicukupkan sudah.

sma

Minggu-minggu terakhir SMA terasa paling berat. Rasanya aku tidak butuh manusia siapapun kecuali teman-teman sekolahku. Sampai-sampai kami mencari tempat kuliah swasta bersama. Meski akhirnya tentu takdir dan pilihan membuat kita saling berpisah. Semua belum mendapat tempat kuliah, kecuali aku. Mereka tidak menangis, tapi malah aku yang sesegukan tidak berhenti waktu itu, di sabuga sambil kita lari pagi bersama. Aku sedikit merasa egois, meski tidak bermaksud. Aku sudah bisa tidur tenang, sementara mreka belum tahu akan lanjut kemana. Teman SMA adalah teman yang cukup awet dan hangat. Sampai kapanpun masih rutin bertemu, kecuali di tahun 2019 ketika aku menetap di jogjakarta.

kuliah

Pun ketika wisuda S1 2016 lalu di bulan Oktober. Di hari-hari terakhir menjelang wisuda, aku benar-benar aware pada setiap tarikan napasku dalam menghirup suasana kampus. Bunga yang mekar disekitar himpunan, hawa himpunan yang bikin pengen tidur siang sambil nonton net tv, rektorat dengan kenangan pahit dan manisnya, serta tawa dan teman-teman yang terlalu senang gibah..semua aku sadari: ini yang terakhir. Tahun depan aku tidak akan menginjakkan kampus ini setiap hari lagi dengan badan lelah dan baju yang style nya malas untuk terlalu dipikirkan. Mungkin tahun depan aku kembali kesini dengan baju lebih rapi dan wajah lebih terawat.

Hari h wisuda, paduan suara kampus menyanyikan lagu when we were young. Seharusnya saat itu berbahagia mengingat beban kuliah oseanografi yang bisa bikin gila akhirnya teratasi. Tapi dibalik itu, aku akan merindukan semua momen perkuliahan. Mungkin kamu dan teman-teman juga. Aku malah menangis, menyadari mungkin tidak akan bertemu lagi.

Sepulang dari kampus, saat itu pukul 19 malam. Semua tradisi himpunan baru beres sekitar pukul 5 sore. Sisanya aku habiskan dengan berfoto bersama teman SMA, SMP, dan teman kecil ku yang berkunjung untuk memberi kado ataupun surat. Saat itu kado kado wisudaku hampir sebanyak 4 tas besar. Sampai-sampai kalau tidak ada suratnya, aku akan lupa itu dari siapa. Begitulah salah satu keuntungan kuliah di kampus ganesha, terkadang orang yang hanya tahu namapun bisa memberimu kado wisuda.

Dimobil saat perjalanan pulang, aku menangis lagi. Tidak ada lagi alasan untuk kembali ke kampus. Tidak ada yang istimewa, tapi sepertinya sudah melekat. Tapi waktu akan terus berjalan dan aku harus bergerak mencapai hal-hal pasti selanjutnya dan meninggalkan semua yang berlalu. Dirumah, lagi-lagi aku menangis saat membaca surat-surat wisuda dari teman-teman. Aku dan teman-teman kuliah sebetulnya tidak pernah sedekat itu, tapi membaca surat-surat tersebut membuatku merasa terlibat dalam hidup mereka.

teman kerja

Tahun kemarin, aku sudah bekerja. Aku mempunyai teman-teman sebaya yang terbiasa kemanapun bersama karena kami sama-sama merantau. Waktu itu kami berlibur bersama ke singapura. Entah kenapa aku merasa bahwa ini adalah kali terakhir. Aku yakin tahun depan dan seterusnya semua akan berubah, mengingat usia kami yang sudah 25. Aku yakin akan ada yang berubah, tidak akan semudah ini untuk berjalan-jalan bersama lagi. Dan rupanya benar, tahun ini salah satu dari kita akan menikah. Mungkin akan disusul yang lainnya. Kali ini aku benar-benar merasa senang sampai menangis memeluk temanku. Tapi diakhir aku kembali refleksi, bahwa pertemanan ini akan berubah.

Semakin bertambahn usia,  hubunganku dengan semua orang aku batasi dengan benar. Aku tidak mau punya teman clingy seperti masa sekolah atau kuliah. Aku ingin beneran sendiri hingga bertemu orang yang akan jadi teman untuk hidup selamanya. Tapi teman-teman kerjaku yang sebaya-sebaya dan sesama single ini mau tidak mau tentu kami pasti dekat, karena siapa lagi?

yogyakarta

Hal yang sama aku alami di Bandung, saat teman menikah, kita akan menangis untuk dua hal: kebahagiaan dia apalagi setelah tahu kisah perjalanan cinta mereka dan kedua menangis sadar bahwa abis ini kita ga bisa lagi sesuka hati saling bertemu, cerita, dan saling menginap.

Akan hal-hal yang berubah, aku selalu aware. Aku akan semakin mensyukuri apa yang ada dihadapanku, ketika aku tahu nanti ia akan hilang atau berubah. Kehidupanku di jogjakarta akhir-akhir inipun membuatku berpikir bahwa betapa jogjakarta sangat hangat dan menyenangkan terutama untuk orang dingin dan sendirian sepertiku.

Aku bisa berjalan kemanapun sendiri dan tetap merasa hangat. Berbeda dengan ketika ku di Serpong. Berjalan sendiri disana, semakin membuatku merasa semakin dingin dan hampa. Kini aku akan menikmati hari-hari yang aku lewati di kota ini. Dengan kemurahan dan keramahan orang-orangnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Kalau dibilang, aku sudah heartless menghadapi dinamika kantor yang mungkin kembali membawaku ke barat karena dinamika perubahannya. Aku yang tidak punya apa-apa, tidak akan apa-apa dibawa kemanapun berada. Tapi kali ini, aku mau menikmati dulu yogyakarta dan semua kesendirianku.

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas