Hamdalah kemaren dapet giveway yaitu sebuah buku. Dikarenakan tiap kelas Women Scholar aku bikin stori di second account. Baru baca dikit banget, ga ada sepersepuluhnya, tapi ada beberapa yang bisa ditangkep. Mungkin dulu juga sering denger dan udah tau, tapi suasananya nggak pas dan biasa aja, jadinya ngga terlalu bisa diresapi.

Karena tema kelasnya adalah tentang women, jadi buku yang dikasih pun tentang muslimah gitu. Terlalu general sih, tapi setelah aku lihat cetakannya ternyata udah yang ke-22 pertanda ini buku bagus. Disini ada bab-bab tentang bagaimana muslimah dengan Rabbnya, dengan kedua orang tua, keluarga, saudara, sampai masyarakat bahkan tetangga dan anak-anaknya. Lengkap banget. Tentunya aku baru baca yang muslimah dan Rabbnya.

Disini dikisahkan bahwa panutan seorang muslimah salah satunya adalah Siti Hajar.

Hal yang paling membuatnya memiliki derajat tinggi adalah ketika ia ditinggalkan Nabi Ibrahim AS di padang pasir yang kering bersama anaknya. Ini bener-bener ga masuk akal. Kalo kata orang umum, Nabi Ibrahim ni bisa dibilang jahat dan sadis untuk ninggalin istrinya sendirian. Dan bukan sekedar sendirian, dia lagi menyusui anaknya yang bayi (Ismail). Kalo denger keluhan dari temen-temen busui, yang namanya menyusui itu susah banget dan penuh kesabaran. Tentu butuh banget gizi seimbang untuk mencukupi nutrisi si ibu dan bayi. Kali ini, ga logis banget, Siti Hajar ditinggal di padang pasir (yang sekarang Mekkah) tanpa ditinggalkan sedikit apapun bekal.

Yang perlu digaris bawahi adalah tanggapan Siti Hajar. Saat disuruh begitu, dia ngga marah-marah. Dia malah nanya “ini disuruh Allah kah? Kalau iya, gapapa”

Dia udah punya keyakinan yang sangat teguh kalo Allah ga akan meninggalkan dia. Dia yakin, kalo Allah yang nyuruh, maka Allah jugalah yang akan melindungi dan memberi kabar gembira. Coba kalo kita jadi Siti Hajar. Yang ada pasti marah-marah dulu karena ini adalah perintah yang udah diluar nalar manusia.

Kalo ngikut realita, yang kepikiran sih ya apalagi kalo ngga sakit/meninggal karena dehidrasi. Tapi Siti Hajar punya keyakinan bahwa keajaiban dari Allah bakal dateng. Sekarang apa kita bisa percaya kalo Allah tuh lebih besar dari nalar dan logika manusia? Jika Siti Hajar tidak punya iman yang kuat, kalau dia ngga tawakkal, pasti sejak awal sudah lemah dan ga ada daya juang.

Dan satu lagi yang perlu jadi catetan, disini Siti Hajar, walaupun yakin dan tawakkal 100% ke Allah, tapi beliau tetep ikhtiar dengan cara lari dari shafa ke marwah sampe 7 kali. Emang sih terkesan ga mungkin banget, masa lari di dua tempat yang sama, berkali-kali, bisa menghasilkan keajaiban? Tapi yang terpenting adalah Siti Hajar ngga yang diem pasrah menunggu kematian, at least dia bergerak dan bergerak untuk mendapatkan apa yang Allah janjikan.

Ini highlight di bab pertama:

Keyakinan dan tawakkal kepada Allah adalah dasar yang harus dimiliki tiap muslimah. Yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan suatu apapun. Katanya gini:

Apapun peristiwa yang terjadi di alam ini dan apapun yang terjadi pada manusia adalah berkat takdir Allah. Dia yakin bahwa apa yang menimpa manusia bukanlah untuk membuatnya merasa bersalah, dan kesalahan yang dilakukannya bukan dimaksudkan untuk menimpakan musibah kepadanya. Apapun masalahnya, tawakkal dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasrahkan segala urusan kepadaNya, dan yakin kalau dia butuh pertolongan dan bimbingan dari Allah. Dan tidak lupa juga; tetep berikhtiar. 

Sekian dan terima kasi, dan tetaplah berhusnuzon sama Allah.

18.16