Stop pretending

Berawal dari buku danish way of parenting, diperkuat dengan kenyataan pahit dalam hidup (halah) serta kemaren juga nonton nktchi, membuat aku semakin yakin untuk menerapkan hidup yang apa adanya dan jangan menutupi perasaan.

When its not okay, then its not okay.

Ga bisa ketika ada masalah lalu kita bilang gapapa padahal mah ini hati sakit banget. Ketika ada yang mengganjal, aku suka mengartikulasikan itu sendiri meski aku bisa membuat diriku sendiri sakit hati karena betapa aku suka kecewa sama personalitiku yang kadang ga manusiawi

80 persen aku cuman merasa sakit doang tapi diluar akan selalu bersugesti “its okay, gapapa”. Sebulan kemudian ambyar. Sebulan kemudian insom berhari-hari.

Sekarang, kalau ada yang mengganjal, lebih baik coba pahami kenapa. Mau nangis ya nangis sampe abis. Pun ketika kecewa sama seseorang, ini aku ga pernah nerapin sih teori doang. Tapi entah kenapa, aku selalu jadi orang ketiga yang ‘mencoba’ mempersatukan dua orang yang lagi konflik. Ga dikantor ga dirumah, aku mendengar dari dua pihak dan berusaha menyatukan, eh ternyata susah bener.

Kalau orangnya bukan kelurga ga akan masalah, ketika ada konflik bisa langsung jauh aja jangan banyak komunikasi. Tapi ketika terjadi dalam keluarga, semakin pretending to be okay, malah makin parah dan 95 persen yakin pasti meledak disuatu hari.

Love languge setiap orang beda. Kasarnya liat di nktchi. Si ayah sayang sama anaknya tapi ‘caranya’ ga bisa diterima anak. Ini hal yang umum terjadi di setiap keluarga, ya gak. Apalagi ketika si anak udah mulai dewasa dan mulai jadi stranger buat orang tuanya. Mau disayang, eh anaknya ga suka dikekang.

Aku ga tumbuh di lingkungan yang biasa mengagungkan dan menyatakan perasaan. Sehingga jadi gampang ngerasa cringe kalau ada orang yang show their love secara berlebihan. Ewh. Aku juga ngerasa aneh kalo ada keluarga yang saling bilang i love you. Tapi jadinya, sekali digituin malah pengen nangis, baper dan kangen. Apalagi kalo misal di bandara atau stasiun dan ayah udah nyium dan meluk, hiks, jleb banget.

say love you when you can

Sederhananya banyak orang di instagram kalo adik/kakanya ulang tahun/graduation mereka saling bilang love you lah, atau apa. Aku ga bisa. Caraku ngungkapin how i love them justru dengan suka menghina gitu. Tapi mereka juga gitu dan ga sakit hati. Misalnya kemaren nadya nginep, ya aku seneng karena ada temen curhat tiap malem. Tapi di stori aku malah bilang: makasih dah ngerepotin.

That’s our love language. Dan aku ngerasa gapapa sih karena kita ngerti bahwa kita saling care. Ketika aku sedih mereka ada, meski ngga yang meluk dan sok baik, tapi semua nasehat selalu jleb dan bener. Kalau ke ayah mama, kadang aku pengen bisa kaya orang lain yang ngomong love you, karena itulah yang emang pengen aku bilang. Aku ga ngerti gimana caranya care. Tapi nanti kalo punya anak sih aku bercita-cita mau menghamburkan semua perkataan validasi bahwa i love you and i care about you alot. With hugs and kisses.

kesimpulannya? ngga ada kesimpulan

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas