Salman, Pukul 10.

Hari itu tingkat akhir. Segala seperti berkecamuk dan sesak. Aku suka pada diriku yang sulit bercerita dan percaya pada orang lain. Karena itu yang membuatku ingin totalitas curhat sama Allah di waktu duha kala itu.

Kadang kupikir ketika seseorang terlihat rajin ibadah itu bukan murni karena ingin ibadah. Mungkin karena ia egois dan ingin menyelesaikan dan melegakan hatinya? Seperti yang aku rasa waktu itu

Mungkin benar, yang perlu dipertahankan adalah ketika kita bisa khusu dalam kondisi sedang tidak tertekan. Artinya pure pasrah sama Allah tanpa niat curhat.

Aku merindukan suasana dinginnya Salman waktu dhuha. Ketika ternyata banyak juga orang orang yang sedang sholat. Sendiri sendiri. Sibuk dengan doa dan harapan masing masing.

Aku memilih pojok kiri, menjauh dari siapapun. Aku menikmati setiap detiknya. Merasakan tangis yang terisak pelan dari berbagai arah. Aku suka suasana itu.

Suasana ketika semua orang tidak bisa apa apa. Ketika tangis menjadi kepasrahan hati mereka padaNya. Seperti menjadi satu satunya jalan menghadapi kehidupan yang tidak menjanjikan.

Perlahan aku memakai mukena. Takbiratul ihram, mengatakan ‘Allahu akbar’ sambil diresapi dalam-dalam.

Bahwa Allah Maha Besar. Lebih besar dari rasa takut dan cemas. Lebih besar dari masalah kita. Seketika tangis kanan kiri saling beradu lagi. Aku juga ingin ikutan. Untuk menumpahkan semua kegelisahan kepadaNya. Seperti hanya dengan itu aku bisa melanjutkan langkah lagi.

It’s okay not to be okay.

Awal dari kekuatan adalah kerapuhan. Bukan fake dan berpura pura kuat sehingga membodohi diri sendiri dan jadi tak pernah mengatasi.

Kalau lemah, ya lemah aja dulu. Lalu carilah Sumber Kekuatan itu.

Bukan mencari pelarian seperti hiburan hiburan yang fana saja. Bukan begitu?

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas