Segala hal yang menyentuh puncak, membuat kita tidak bisa berekspresi apa-apa. Tidak ada sepatah kata yang bisa diucapkan, rasanya tidak sanggup juga untuk melangkahkan kaki dan melakukan apapun.

Ayah temanku hari ini wafat, aku tahu ini akan menjadi terrible loss untuknya. Untuk siapapun, kehilangan keluarga adalah rasa sakit yang tidak bisa dikatakan dengan apapun. Setiap menghadapi hal ini aku selalu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jika aku ada didekatnya, aku ingin memeluknya dan memberikan apapun agar berkurang sedihnya. Tapi aku jauh dan aku merasa bahwa sekadar kata-kata belasungkawa tidak dapat mewakili perasaanku untuknya.

Berlaku untuk perasaan-perasaan lainnya. Semua yang terlalu menyedihkan. Semua yang terlalu menyenangkan. Tidak ada kata yang bisa menggambarkannya, kecuali hanya diam dan kita memprosesnya sendiri. Kalaupun harus berkata atau berbuat, rasanya semuanya tidak ada yang sepadan untuk mengungkapkan.

Berlaku juga untukku sendiri. Jika terjadi sesuatu yang signifikan, aku tidak pernah bisa menulis. Jika aku masih bisa menulis itu artinya masih dalam batas wajar. Tapi ketika tidak bisa menulis apapun, berarti semua sedang puncaknya.

Hal lain, baru saja mendengar tentang sakaratul maut dari ust Oemar Mitha.

Kita sering melihat orang yang meninggal tidak pernah berteriak. Padahal kita tahu bahwa rasa sakit yang paling puncak didunia ini adalah; kematian. Tapi saat seseorang meninggal, mereka tidak menunjukkan rasa sakit itu. Jarang rasanya orang yang meninggal sambil teriak-teriak. Kenapa? Karena bahkan untuk mengekspresikannya mereka tidak punya kekuatan. Untuk bicara tidak bisa. Paling maksimal hanya ditunjukkan oleh air mata.

Berlaku untuk seluruh manusia, sholeh ataupun tidak. Bahkan sekelas nabipun, sakaratul maut adalah sakit yang teramat sangat. Bahkan Rasulullah sebagai manusia terbaik, diberikan sakaratul maut dengan dua kali lipat lebih sakit dari manusia normal. Kenapa? Karena manusia terbaik diberikan ujian terbesar saat didunia agar ia pantas mendapat kebaikan terbaik diakhirat. T.T

Nabi Musa pernah berkata bahwa sakitnya sakaratul maut adalah seperti sedang dikuliti.

Kita yang manusia biasa, tidak bisa mengelak dari sakitnya sakaratul maut. Pilihan selanjutnya yang bisa kita pilih adalah kondisi di alam barzakh. Apakah kita termasuk manusia yang mengumpulkan cahaya untuk dialam kubur? Atau kita justru terus menabung kegelapan agar barzakh semakin mencekam?

Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni semua dosa dan mempermudah perjalanan setelah mati. Disaat tidak ada penolong siapapun selain amal sholeh dan amal jariyah.

Satu hal menarik dari ust Oemar Mitha tadi. Berlaku bagi orang sholeh. Saat malam pertama dialam kubur, dia akan berdoa kepada Allah untuk mempercepat kiamat. Karena ia ingin bertemu dengan keluarganya.

Dahsyatnya kematian akan membuat manusia lupa akan segala hal didunia ini. Sirkel-sirkel pertemanan, pekerjaan, semua akan hilang. Tapi yang membekas dan terus terbawa hingga kehidupan selanjutnya adalah; keluarga. Jadikanlah keluarga kita “amal jariyah” yang senantiasa mendoakan dikala kita tidak ada lagi.

Bismillah, semoga Allah selalu menunjukkan jalanNya. Semoga kita termasuk manusia yang mengumpulkan cahaya untuk kehidupan selanjutnya.