Nanti

Aku baru sadar setelah dua minggu lalu bertemu seorang dosen waktu kuliah di sebuah forum, yang juga kawan ayahku, mengenai ini:

“kamu ini, kuliah disuruh ayah. kerja juga disuruh ayah. jangan-jangan jodohnya lagi disiapin loh?!?!”, katanya sambil tertawa bercanda. Tapi jleb juga. Disangka aku ini anak yang terkekang. Atau disangka juga ayah adalah seorang ayah yang pengatur. Sesungguhnya kenyataannya jauh dari itu semua. Tapi sabar sodara, aku paham betul ayah ga lagi nyiapin jodoh kok, jadi bukan kalimat terakhir itu yang bikin jleb.

Dipikir-pikir, memang jalan takdirku sangat sejalan dengan keinginan kedua orang tua, khususnya ayah.

Sewaktu SMA, aku daftar jurusan oseanografi karena nasehat ayah. “masuk itu aja, ada temen ayah” dan berbagai alasan lainnya. Aku iya-iya aja karena dalem hati bilang, fisika remed 6 kali masa iya masuk itb? Udah pasrah daftar swasta,

Eh masuk dong. tapi masih FITB, belum jurusan.

Dari semua jalan hidup, aku selalu milih sendiri dan bukan dipilihin orang tua. Paling ayah hanya bilang, “kata ayah sih daftar oseanografi aja karena abc, tapi kalau suka geodesi gapapa”

Kedua perihal pekerjaan. Inget betul, sewaktu aku tingkat dua dan lagi super ga suka sama jurusan dan lingkungan, ayah berkata: teh nanti kerjanya bisa loh di bppt. Sementara aku hanya iya iya aja padahal denger bppt aja belom pernah.

Gaiz, ternyata sekarang beneranlah aku berada di bppt. Kalo dithrowback-in lagi, ini semua kok selalu sama dengan celetukan ayah yang selalu aku iyahin tapi ga serius. Tahun kemarin aku daftarpun sebenernya karena gatau aja mau daftar ke k/l mana, lalu teringat obrolan tempo dulu sama ayah yang nyuruh ke bppt. Ternyata deputiku sekarangpun temen ayah juga.

Entahlah, sepertinya aku bukan si anak yang punya keinginan super gigih dalam hal karir. Sebenarnya cita-cita tertinggi mah ya jadi ibu yang dirumah aja (tapi dg catatan udah ada pegangan dan ada yang bisa dikerjain juga). Tapi selama masih bisa melanglang buana, ya hayu kita bersungguh-sungguh! Ketika kesempatan beasiswaku yang 875263748777832478 kali itu hilang (krn gagal), sekarang Allah menggantikan dengan tempat kerja yang lingkungannya sangat mendukung buat kuliah lagi.

Begitulah Allah menyiapkan takdir. Dulu banyak hal yang aku sampe pusing mikir: kenapa bukan A, kenapa malah B, apa bagusnya? dan seterusnya tatkala ada hal yang ga sesuai harapan. Tapi semua maksud dan perkataan “OH” akan takdirNya akan terlihat nanti, mungkin tahun nanti, atau nantinya lagi.

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Satu pemikiran di “Nanti”

Lewat ke baris perkakas