Minimalism #3: You’re what you eat

Kategori Buku, diy, Feelings, Minimalism, Opini, Personal, Tips

Mindfulness dan Minimalism

Aku masih belom terlalu paham bedanya mindfulness dan minimalism, tapi kurasa keduanya berkaitan. Mindfulness artinya melakukan berbagai hal dengan penuh kesadaran dan ga terpaut hal-hal yang ga berfaedah. Sementara minimalism ialah ketika kita bisa efektif menjalani hidup dan membuang yang ga perlu. Nyambung-nyambung gitu kan ya?

Hal ketiga setelah minimalism dan mindfulness dalam pikiran dan keuangan, selanjutnya adalah mengenai: you are what you eat.

Foods and Drinks

Begini yang aku dapat dari kedua konsep tersebut, yang sedang berusaha di terapin, meskipun ga segampang itu juga.

  • You are what you eat bukanlah hanya sekedar kata-kata bohong. Tapi emang hal pertama yang perlu diperhatiin dalam menjaga kesehatan adalah makan. Lalu olahraga. Kalau olahraga banyak tapi makan ga dijaga mah sama aja. Sadari sepenuh hati jiwa dan raga kalau kita butuh dengan makanan bergizi.
  • Sadarilah dengan sadar bahwa segala yang kita telen akan ngaruh kepada badan, mood, dan aktivitas kita.
  • Kalo bisa, beli makanan organik. beras beli yang organik, garem yang sea salt, minyak yang olive atau apalah selain minyak goreng biasa, roti yang gandum. Tapi karena mahal yauda terserah…
  • Kalo beli minuman perhatiin kandungan gula, bandingin dengan produk lain yang gulanya dikit. Jangan kebanyakan beli minuman rasa-rasa, karena bisi diabetes. Selain itu, banyak juga minum air putih. Aku punya sebuah sticky notes di meja kerja yang tulisannya: Water, Posture, dan Hands. Maksudnya adalah jangan lupa minum, duduknya harus bener dan jangan duduk terus, dan tangan jangan maenin muka karena kebiasaanku adalah ngoprek jerawat ato komedo huhu
  • Cemilan jangan aneh-aneh, boleh lah sekali-kali cheat, tapi jangan keseringan ( ngomong doang, kenyataannya mah belom begini)
  • Kalo lagi dilapangan, jangan picky amat. Makan apa yang ada karena bahaya dan nyusahin kalo sakit di pas survey.
  • Jangan kebanyakan tepung. Beli sayur mayur dan buah. Lebih aman dan hemat kalo masak sendiri. Sebenernya dilematis sih, karena sayur dan buah cepet basi, tapi akupun suka ga sanggup kalo makan semua sekaligus. Ahirnya sering dibuang:(
  • Dipikir-pikir yaa, fast food itu udah mah lebih mahal dari makanan sehat, juga berpenyakit. Jadi yang dibeli dari situ hanyalah hawa nafsu dan keinginan belaka. Ya sekali-kali gapapa sih.
  • Tidak perlu beli chatime/jcool dkk ((((kecuali kalo untuk mengembalikan mood kalo parah)))). Ini super sekali karena sejak di jogja aku belom pernah beli chatime dong meskipun diskonan sering!! sebuah pencapaian hidup yang luar biasa.
  • Yang mesti ada distok makanan: madu, buah dan sayur at least satu jenis, biskuit (kalo-kalo maag), dan telur. juga terkadang susu.

Kesimpulan

Udah kaya laporan aja ada kesimpulan segala…

jadi sebenarnya banyak yang jadi catatan kalo mau ditulis semua. Namun secara keseluruhan yang perlu kita sadari adalah bahwa setiap yang kita makan jangan asal dimakan aja, tapi sadari efeknya gimana. Bikin sehat? Bikin sakit? Boleh cheating tapi jangan kebanyakan (padahal ku udah 2 hari makan mie).

Kalo ga bisa meninggalkan makanan ga faedah, maka mulai diimbangi dengan makanan bergizi. Misal masih suka makan micin sepertiqu, maka coba imbangi juga sama sayuran dan buah atau kacang-kacangan, intinya yang natural-natural aja.

Lama-lama, baru kurangi lah si ketidakfaedahan makanan lainnya…..

sekian dan terima kasih, sampe jumpa di #minimalism selanjutnya yang akan aku tulis beberapa menit lagi……………..

Please follow and like us:
0
25 yo.
Oceanographer.

Tinggalkan Balasan