How To Communicate

To Hold

Aku sering wondering, dan akhirnya sempat menyimpulkan bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi yang sangat terbuka. Semua hal perlu disampaikan kepada sesiapa yang memang kita butuhkan, terutama orang lingkar pertama kita. Kalo orang itu ada di lingkaran ke dua-ketiga atau keempat mah gak perlu. Adapun lingkar pertama yang aku maksud adalah orang terdekat kita: keluarga, teman dekat. Intinya orang yang emang ga bisa lepas dari kita (mau ga mau).

Tapi hari ini aku mau menyimpulkan lagi sesuatu yang baru: kalau bisa diselesaikan sendiri, maka selesaikan aja. Gak perlu diomongin.

Contoh: Perasaan kesel cuman sekecil kerikil, ngapain diomongin kalo kita bisa nerima pada akhirnya. Kalo aku pribadi sih, rasa kesel yang besar aja bakal aku simpen. Tapi kalau orang tersebut ada di lingkar pertama, harus ngomong. Karena orang di lingkar pertama wajib dipertahankan dan ga mungkin ditinggalin. Terutama keluarga (termasuk pasangan dan anak kalaw dah punya).

Kenapa gak semua diomongin?

Soalnya dari pengalaman sendiri sih, aku pernah menghadapi orang yang ibarat kata dia kesenggol dikit langsung bilang sejelas-jelasnya ke aku. Diposisi itu mending kalau aku beneran salah dan bisa diperbaiki, ini casenya aku ga bisa berbuat apa-apa dan jatohnya aku malah merasa di benci. Super toxic buat aku yang sangat ga enakan, karena kepikiran terus bahwa aku bersalah, tapi secara logic emang aku ga bersalah. Intinya sih: harus lebih mikir lagi kalo orang lain juga punya perasaan.

Yang perlu jadi pertimbangan adalah:
Apakah masalah tersebut lebih besar dari pada rasa sakit hati orang itu?

Kalo emang masalah besaaar banget bagi keduanya, ya omongin. Kalau ga akan berdampak dan cuma pengen ngelepasin emosi sesaat kita mah janganlah.

Aku ngerasain semua emosi negatif kok. Tapi aku mikir juga kalau mau dilimpahin ke orang.

To let go

Semua perasaan negatif dalam diri kita ada kadarnya. Kalau hati kita pemaaf dan seluas samudera, kalau bisa nerima ya terima aja–nggak perlu dibahas-bahas disana sini. Tapi kalau 1. orang itu penting dan 2. perasaan negatif itu besar, maka wajib diomongin biar ga salah paham kedepannya. 

Karena sejelek-jeleknya memendam sesuatu, pada akhirnya bakal meledak juga. Contohnya yang punya kebiasaan ini adalah aqu sendiri. Aku gak pernah ngomong kalau kesel. Contoh dulu pas pacaran ga pernah ada berantem sengit, paling cuman dikit-dikit doang lewat chat. Itu karena aku banyak mendem. Kalau disuruh dilepasin mah bakal banyak yang bisa dipertengkarkan. Paling banter lagi aku cuman bisa nangis doang didepannya tapi ga bisa jelasin.

Pada akhirnya aku mencapai titik eungap banget dan ga kuat, akhirnya syaitonirojimnya diriqu adalah masih tetep ga bilang kenapa-kenapanya, langsung seketika pergi tanpa kata-kata. Super childish. Dan bahaya juga. Aku ga bisa selamanya kaya gini.

Jadi, kembali lagi ke kalimat ini: kalau 1. orang itu penting dan 2. perasaan negatif itu besar, maka wajib diomongin biar ga salah paham kedepannya.

Simpulan: komunikasi yang baik bukan berarti SEMUA harus diungkapkan. Kita sebagai manusia dewasa tau lah mana yang ngga perlu diomongin dan mana yang wajib dikomunikasikan. Kebanyakan mendem juga ga bagus buat kesehatan.

 

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas