how i love my mom

Benar seperti yang mereka bilang, keterlibatan batin anak dan ibu memang cukup kuat. Aku tidak seperti adikku yang menceritakan semua hal di sekolahnya kala sore. Aku bercerita hal-hal wajar dalam sekolah. Semua kecemasan, ketakutan, hal menyedihkan yang aku alami, selalu aku tutupi karena aku benci terlihat lemah. Kurasa, itu tidak penting juga untuk orang lain.

Tapi mama selalu jadi pengendus terhebat. Bahkan menjadi manusia paling mengerti bahwa kalau aku tidak ingin cerita, maka, tidak perlu dipaksa. Beliau lebih sering menenangkanku lewat tindakan ketimbang bertanya “kenapa?” karena mama tahu betul aku malah tidak nyaman kalau disuruh begitu. Itu, waktu ku kecil. Tanpa ku bicara, mama selalu tahu apa yang terjadi. Aneh. Aku suka bertanya-tanya, apa jangan-jangan mama bisa baca pikiran?

Semakin besar aku semakin sadar bahwa kita sudah dewasa dan tak perlu ada yang ditutupi. Aku bisa lebih terbuka dan itu melegakan. Kecuali hari itu, ketika aku merasa duniaku runtuh. Sepulang kampus sepanjang perjalanan aku selalu menangis dan tidak bisa ditahan sama sekali. Gengsi yang selalu aku elukan bahkan tak kuasa menahan tingginya. Sejak masuk pintu rumah, aku masih sesegukan. Adik-adik mulai annoying dan menggoda, tapi mama selalu jadi tempat paling mengerti. Sikap anehku yang sebenarnya bisa jadi bahan bully-an di rumah, ternyata malah tidak apa-apa karena mama membuat semua lebih tenang.

Mama adalah seorang yang detail dan sempurna. Mudah kecewa kalau ada hal yang tidak berjalan seharusnya. Memiliki empat putri yang manja membuat aku sering melihat mama capek. Hingga hari ini, tidurnya selalu diatas jam 12 namun tetap bangun pukul 4. Mama bukan lah ibu-ibu yang hanya diam dirumah. Aktivitasnya selalu ada. Bahkan tahun kemarin ketika aku tidak tinggal dirumah, kupikir sebaiknya mama istirahat dan resign saja untuk diam dirumah dan bermain bersma kucing (kupikir itu akan sangat menyenangkan), ternyata mama malah daftar kuliah. Aku ingin bertanya darimana mama mendapat energi. Kadang aku ingin semangat seperti mama. Padahal aku selalu lebih ingin bermalasan.

Ketika dahulu aku dekat dengan seseorang, mama selalu jadi orang yang juga mudah dekat dengannya. Meski kadang aku protes, kenapa mama malah jadi dekat sama orang lain? Bahkan mama jadi orang yang patah hati ketika kami tak berlanjut dan ketika aku bahkan sudah benar-benar melupakan.

Apakah benar, kalau anak-anak menjadi dewasa, maka orang tua akan kesepian?

Sewaktu kuliah, aku selalu ingat bahwa mama senang ketika aku pulang cepat dan ada jam kosong. Kami menghabiskan waktu makan siang bersama berdua atau berjalan-jalan atau renang. Kadang, kalau aku ingin bolos, mama malah langsung setuju :))

Kini ketika aku pergi dari rumah, yang aku khawatirkan adalah apakah dirumah akan riweuh? Aku hanya bisa memohon padaNya agar mama selalu diberi kekuatan serta kelapangan hati dan kesabaran yang tidak terbatas. Kadang aku suka berfikir, kalau aku jadi mama, mungkin aku tidak akan bisa sabar, mungkin aku akan marah-marah. Tapi kurasa seorang ibu sudah memiliki kesabaran yang sangat terlatih sampai aku jadi sedih sendiri. Sampai-sampai rasanya aku ingin berdoa ribuan kali agar Allah selalu melindungi dan menyayangi mama, ayah serta adik-adikku.

HIngga oktober november kemarin, ketika aku merasa fucked up paling puncak, mama datang. Lalu malam hari bertanya, “jadi apa teh yang mau diobrolin?”. Tanpa mama berkata banyak aku selalu merasa mama paling mengerti. Ketika aku merasa paling sesak dan paling stuck, cerita padanya membuat aku merasa paling lega.

Aku tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa untuk membalas semua perasaan ini. Aku berharap, ketika aku mulai kerja, mama akan meminta sesuatu padaku. Ternyata tidak. Aku malah jadi bingung harus bagaimana. Bagaimana cara berbakti yang baik? Apa ada yang tahu? Bagaimana cara mengungkapkan rasa yang terbaik? Apa ada yang tahu?

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas