how i love my dad

Kategori Personal

Aku selalu terhibur dengan segala tingkah laku ayahku waktu ku kecil. Ayah adalah seorang yang sangat sangat sangat kreatif dan sangat penyayang. Aku tidak pernah melihat ayah marah. Kalaupun marah, itu sangaaaaaaaaaaaaat jarang dan menyangkut hal yang memang sangat urgen.

Ayah yang selalu menemaniku menunggu jemputan. Ayah yang selalu menyelipkan uang di tasku padahal aturan sekolahku tidak boleh bawa uang. Sehingga uang itu selalu disimpan guruku dan dikembalikan saat bagi rapor.

Ketika aku dewasa, kita tentu jadi tidak sedekat seperti waktu aku kecil, mungkin karena aku perempuan dan ayah laki-laki. Ayah orang yang pintar. Buku-bukunya banyak. Selalu menyendiri dimejanya, didepan laptopnya, mendesign sesuatu, hingga tengah malam. Rokok-rokok ayah menjadi saksi semuanya. Betapa kalau aku mendengar cerita ayah dan mama berjuang ketika awal menikah, rasanya luar biasa. Perjalanan hidup ayah yang sudah ditinggal orang tua sejak kecil hingga akhirnya ayah bisa kuliah sendiri di Bandung, membuat aku merasa salut.

Ayah adalah yang paling concern dalam pendidikan dan pengembangan diriku. Sejak SMA, aku didaftarkan LIA yang mana pulangnya selalu dijemput ayah. Dan perjalanan pulang dari lia riau sampai ke rumah selalu menyenangkan dan menenangkan. Kami bicara tentang masa depan. Perkuliahan. Dan seterusnya. Ayah juga yang menyuruhku masuk oseanografi bahkan hingga kini kerja di tempat sekarang. Semua rasanya merupakan jawaban dari doa-doa ayah.

Kuliahku memiliki jam tidak tentu. Selalu pulang malam. Aku merasa sudah besar, dan sering tidak mengabari orang rumah. Aku bisa naik kendaraan umum atau ikut teman. Tapi ayah tanpa bicara apa-apa ternyata sudah menunggu di depan kampus.

Aku pernah jadi sangat jahat sewaktu menjadi panitia oskm 2013. Kegiatan itu berlangsung hingga pukul tiga pagi. Aku lupa aku punya rumah. Aku tidak mengabari siapa-siapa. Ternyata ayah sudah menunggu depan kampus sejak pukul 10. Dosa besar ya Allah ya Robb :((((( semoga nanti anakku ga kaya gitu ya nak 🙁

Ketika itu beliau sampai bertanya ke unit keselamatan kampus (K3L), bertanya ke semua rekan ayah yang merupakan dosen-dosen kelautan. Berujung akhirnya K3L bersepakat mmbatasi kegiatan hingga pukul 10 saja. Mahasiswa protes. Aku senyum-senyum, karena itu ulah ayah. Hehe.

Ayah tidak pernah mengeluh masalah keuangan. Ayah malah gak suka kalau aku berhemat sampai gak makan. Aku rasa itu adalah pride seorang lelaki, khususnya seorang ayah. Karena ayah sangat mengaffordable semuanya, justru malah aku jadi ga enak dan menghemat sendiri supaya gak banyak minta.

Hingga ketika aku lulus kuliah, aku mengalami kegalauan sangat. Karena aku belum mau kerja, tapi kalaupun aku kuliah itu akan masih lama. Ayah seperti membaca situasi itu dan mengajakku mengobrol.

“teh, kalau anak ayah laki-laki, abis lulus ayah bakal suruh pergi jauh cari kerja. Ke kalimantan sekalian kalau bisa. Tapi anak ayah perempuan, teteh sekarang fokus aja cari beasiswa, gapapa” Langsung aku merasa terharu, lega dan mantap dalam berjuang (iya, padahal gagal).

Ayah juga bilang, “teh, syarat kalau mau kuliah diluar adalah harus ngapalin Qur’an dari sekarang”. Siap! Kataku. Ayah bukan hanya concern pada bahasa dan pendidikanku, juga dalam agama. Selalu mengirimiku video. Aku selalu suka kalau melihat ayah sholat dan berdoa. Seperti doa-doa itulah yang menghantarku hidup.

Aku paling gak bisa tahan kalau ayah sudah mulai berkata-kata ketika aku kembali ke jogja atau dulu ke serpong. Ayah mencium keningku dan bilang hati-hati. Gitu doang baper banget ya Allah aku sedih 🙁

Dari ayah aku sadar bahwa bener, cinta pertama seorang anak perempuan selalu ayahnya. Ayah selalu jadi sosok yang cocok dan mengerti. Tak terlalu banyak bicara tapi selalu berhasil membuat luluh. Kadnang malah aku yang merasa tidak tahu diri. Sudah disayangi sebegitunya masih bagini-begini aja. dan ga ada ngeuh-ngeuhnya.

Aku ingin berdoa sekuat-kuatnya, semoga Allah selalu menyertai langkah ayah, mama, dan adik-adik. Meringankan segala beban, dan memudahkan segala urusan.  Sayangi mereka, Ya Allah.

Pesan ayah yang selalu aku ingat adalah untuk sholat tahajjud. Pesan mama yang selalu aku ingat adalah untuk sholat dhuha.

Pesanku pada diri sendiri adalah: terus hafalin Qur’an meski sedikit, karena dengan itu aku bisa memberikan istana di surga bagi kedua orang tua. Karena didunia ini, aku tidak tahu harus memberi apa…

Please follow and like us:
0
25 yo.
Oceanographer.

Tinggalkan Balasan