Menulis ini karena kalo dinanti-nanti bakal lupa dan keburu males…didapat dari ust Nouman Ali Khan

Kita udah sering denger tentang perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidr, tapi ini dikupas lagi dari sisi lain yang jarang didenger

Setiap Jumat kita baca Al Kahfi, sebenernya bukan cuma sekedar formalitas, tapi dalam surat itu ada sebuah pelajaran agar kita bisa ‘survive’ menjalani hari-hari kedepan sampai bertemu hari Jumat lagi. Salah satunya adalah tadi, bagaimana nabi musa mencari ilmu dengan nabi khidir.

Situasi saat itu adalah Nabi Musa sudah selesai urusan dengan Firaun dan sudah selesai dengan urusan Bani Israil yang membangkang. Ia sudah membelah lautan. Dan ketika itu beliau sedang berkomunikasi langsung secara intens dengan Allah. Kemudian Allah menyuruh Nabi Musa untuk pergi dan mencari ilmu kepada seseorang.

Logikanya, saat itu beliau sedang sering komunikasi dengan Allah, lalu kenapa mesti nyuruh beliau pergi bertemu orang lain untuk belajar? Kenapa ga langsung dari Allah aja?

Tapi tanpa banyak bertanya, nabi Musa memulai perjalanan. Sebelum mulai perjalanan, ia berkata pada bani Israil yang dulu sedang berguru kepadanya: aku akan mencari ilmu kepada seseorang, dan ini adalah perjalanan panjang yang mungkin akan menghabiskan seumur hidupku.

Yang ditekankan disini adalah beliau mengajarkan kepada muridnya bahwa sebagai seorang gurupun, ia juga masih mencari ilmu. Bahkan tekadnya dalam mencari ilmu itu dikatakan sebagai perjalanan panjang yang mungkin menghabiskan umurnya–karena ia tidak tahu akan bertemu dimana.

Siapa yang Nabi Musa temui? Di Quran tidak disebutkan namanya. Beberapa menyebut bahwa beliau adalah Nabi Khidr, tapi ada juga yang menyebut dari malaikat. Wallahu alam.

Nabi Musa adalah seorang Rasul yang Taurat diturunkan kepadanya. dan Taurat adalah kitab yang volumenya paling berat dibanding yang lainnya. Ini menunjukkan kalau dijaman itu, Nabi Musa adalah orang paling berilmu dan paling pinter. Pengikutnya pun disebut Ahli Kitab. Tapi beliau tetap humble untuk mau mengejar si gurunya dan belajar.

Setelah bertemu guru tersebut (Nabi Khidir), sebagai seseorang dengan reputasi tinggi (udah mengalahkan Firaun dll), harusnya dia bertanya ke si guru: kamu siapa? apa pencapaian dan apa yang kamu tekuni? Sebagaimana kita jaman sekarang kalo mau dengerin orang harus tau dulu dia lulusan mana sih? kuliah dimana sih? jurusan apa? Tapi Nabi Musa ga melakukan itu, beliau nurut. Bahkan ngga ngejelasin kalau dia adalah seorang nabi yang diberi Taurat dan telah membelah lautan.

Nabi Musa saat itu, ngga langsung bilang: Ajari aku sesuatu. Lalu mereka duduk dan ada kegiatan belajar-mengajar. Itu ga terjadi. Beliau malah bilang: biarkan aku ikut dengan perjalananmu.

Dalam hal ini menggambarkan bahwa ilmu yang akan didapat kali ini adalah sesuatu yang harus dirasakan dan ga bisa diserap jika hanya sekadar kata-kata.

Seperti yang sering kita dengar dan bahkan baca di QS Al-Kahfi.

Pertama, Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka naiki. Nabi Musa kaget. Kita udah dibaikin orang, mereka udah menolong kita ngasih kapal untuk perjalanan jauh. Tapi setelah kita sampe tujuan kapalnya malah dirusak??? Ngga logis. Kenapa mesti berbuat jahat kepada orang yang sudah menolong kita? Nabi Musa protes.

Kedua, mereka berjalan, lalu bertemu seorang anak. Anak itu kemudian dibunuh. Karakter Nabi Musa adalah beliau ga bisa melihat ketidak adilan. Jika ada pertengkaran dan perkelahian, beliau pasti akan terlibat karena mudah merasa ‘gerah’ akan ketidak adilan. Kita ingat waktu Nabi Musa masih muda, beliau terlibat perkelahian dengan orang Yahudi sampe jadi buronan se-Mesir. Seperti itulah karakter beliau. Dan sekarang dihadapkan dengan si guru yang membunuh anak kecil ga bersalah. Emosi dalam dirinya dan pertanyaan pertanyaan memenuhi dirinya dengan sangat. Nabi Musa protes lagi. Sampai nabi Khidir mengatakan, kalau ia masih ga sabar dan protes, maka perjalanan mereka akan selesai.

Ketiga, mereka tiba disebuah kota yang orang-orangnya sama sekali ga welcome. Ga ada yang ngasih air setegukpun saking pelitnya. Di jalan, mereka melihat sebuah dinding yang akan rubuh. Nabi Khidir malah memperkokohnya dan membangunnya kembali. Nabi Musa benar-benar heran. Kita udah dijahatin orang? Ga dikasih minum? Sekarang malah ngebenerin dinding dipinggir jalan. Harusnya mereka mendapat bayaran karena telah melakukan itu. Akhirnya Nabi Khidir memutuskan berpisah sama Nabi Musa.

Sebelum berpisah, inilah hikmahnya yang Nabi Khidir jelaskan:

Pertama, ia melubangi perahu karena didepan ada penjarahan yang akan mengambil semua harta dan melumatkan kapal. Jika kapal ini hanya dilubangi, saat terjadi penjarahan tidak akan dihancurkan, tapi kapal ini bisa diperbaiki lagi.

Kedua, si anak yang dibunuh adalah anak yang akan menyusahkan dan durhaka kepada orang tuanya. Dia dibunuh sekarang dengan itu akan menyelamatkan kedua orang tuanya, dan si anakpun malah masuk surga.

Ketiga, mengenai dinding. Dibawah dinding itu terdapat harta anak yatim piatu. Jika dinding tersebut roboh, harta itu akan kelihatan oleh warga sana (yang kelakuannya jelek) dan harta itu malah diambil warga, bukan diambil oleh si anak yatim piatu tersebut.

Hikmahnya:

Saat ini, kita merasa banyak hal yang aneh dan tidak adil. Seseorang berbuat jahat lalu dibalas dengan kebaikan. Atau dalam melihat takdir. Kita merasa sudah berbuat maksimal tapi selalu hal buruk yang menimpa. Kita sudah maksimal, tapi jalan didepan terasa sangat berat. Kita sudah berusaha benar, tapi tetap saja selalu salah. Banyak sekali hal-hal dihadapan kita yang ga logis dan ga adil. Tapi itu hanya karena kita belum melihat behind the scenenya. Kita belum melihat garis besarnya

Nabi Musa memiliki seorang guru yang akan menjelaskan: si anak dibunuh karena nanti akan durhaka. Tapi kita ga punya guru seperti itu yang akan menjelaskan kenapa kita dikasih A dan dikasih B. Namun dari kisah ini, Allah mau ngasih tau ke kita kalau jangan sampai berpikir pendek dan mudah menjudge sesuatu yang kita belum melihat behind the scene-nya. Siapa tau hal buruk didepan kita ternyata jadi penolong kita 5 tahun lagi? Tidak ada yang tahu.

Hikmah lainnya:

Ini adalah pelajaran yang benar-benar berat. Kenapa? Nabi Musa sebagai manusia paling jenius dimasa itupun, beliau tidak sabar dalam menghadapi perjalanan tersebut. Beliau tetap protes dan bertanya. Padahal beliau adalah sekelas Nabi. Tenyata mengenai kesabaran dan penerimaan takdir, tidak semudah itu untuk diserap.

Apalagi kita yang manusia biasa. Maka tidak apa-apa untuk terus berproses. Namun dari Al Kahfi ini pada akhirnya kita tahu, kalau semua rencana Allah pasti ada hikmahnya. Kita hanya belum bisa melihat behind the scenenya aja.