Gloomy

2020 diawali dengan hari yang mendung dan hujan yang lumayan. Aku pagi ini berangkat pukul enam untuk mengejar kereta.
Perayaan apapun bagiku kini bukan terasa menyenangkan, tapi malah sedikit membuat merasa kosong.

Seperti ulang tahunku kemarin atau tahun baru ini. Semuanya mengingatkanku bahwa waktu sangat cepat berlalu. Banyak yang berubah, banyak juga yang tidak. Kenyataan aku tidak bergerak dan membuat perubahan bahkan dalam hidupku membuatku sedikit tercekat.

Setelah 11 hari di Bandung dengan segala kehangatan suasananya, membuat perjalanan menuju jogjakarta kali ini terasa gelap. Aku akan mengeluh lagi dengan diriku sendiri, atau setidaknya live music Yogyakarta dimalam hari. Kemarin kemarin dengan leluasanya aku mengeluh pada teman dan keluarga. Kini kembali aku mengartikulasikan sendiri semua kepenatan.

Rutinitas terkadang berhasil membuat lupa diri. Apakah yang aku cari sekarang, dengan jarak tempuh yang jauh dari rumah dan semua orang di lingkar pertamaku? Bisakah lebih dari sekedar kerja dan mencari uang semata?

10 hari ini ayah memberiku nasihat setiap harinya; untuk tetap mengejar keabadian yang pasti. Menyeimbangi semua perihal duniawi dengan kedekatan padaNya agar ditunjukkan semua jalan dan diberi pertolongan dalam setiap masalah.

Boleh memaksa diri bangun pagi dan mandi untuk ke kantor, tapi seimbang dengan memaksakan diri untuk sholat malam. Boleh perhitungan dalam hal keuangan, tapi seimbang dengan shaum sunnah dan mengaji.

Kalau kini hatiku terasa jauh dariNya, mungkin sedikit usaha seperti itu akan membuatNya memeluk kembali semua dingin yang kurasa. Semoga Allah selalu menemani dalam setiap langkah hidup dan menguatkan setiap gloomy yang akan dilewati.

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas