The Danish Way of Parenting : PLAY

Kategori Buku, Chidhood, Family, Minimalism, Opini, Parenting, Review, Tips

Rasanya aku sudah mendengar “The Danish Way of Parenting” di 98747184938409 kali bacaan sebagai buku yang recomended. Sehingga sewaktu tempo lalu nemu buku ini di togamas, ga pake mikir akupun langsung beli.

Denmark terkenal sebagai negara yang paling bahagia. Buku The Danish Way of Parenting ini ditulis oleh seorang Amerika yang nikah dengan suami Denmark. Ia menemukan banyak pola pikir yang berbeda antara Amerika dan Denmark, akhirnya terkuaklah bahwa pendidikan anak adalah hal penting yang membuat Denmark jadi negara paling bahagia.

Disini dijelaskan metode PARENT.

Play,

Authenticity,

Reframing,

Empathy,

No ultimatum,

Togetherness.

 

Play

Quote yang menarik dari bab ini adalah: buat apa menjadikan anak seorang ahli matematika tanpa memiliki kemampuan untuk menghadapi jatuh bangunnya kehidupan?

Sering kali orang tua fokus pada prestasi anak. Sejak bayi kalo bisa les ya di les in lah kemana-mana. Kita juga dulu gitu, kan. Baru kelas satu SD, udah les sempoa. Dan seterusnya.

Si anak seperti hidupnya udah diatur banget oleh orang tua. Mereka dipuji ketika peringkat satu. Tapi apakah prestasi-prestasi tersebut penting?

Ketika itu terjadi, si anak akan merasa tidak punya kendali atas hidup mereka. Ga bisa memilih, dan terserah orang tuanya aja.

Ketika besar mereka akan percaya bahwa lingkunganlah yang mempengaruhi keadaaan mereka. Bukan diri mereka sendiri. Orang seperti ini akan menyalahkan lingkungan alih-alih berusaha memperbaiki dan evaluasi diri.

Orang tua perlu memberikan ruang kepercayaan pada anak-anak untuk mengatur dan memiliki hidupnya sendiri. Dengan cara: biarkan mereka bermain.

Hari weekend jangan dijejali berbagai les-les, lebih baik suruh keluar dan bermain. Jangan sampai kecemasan kita (misal takut kotor, takut jatoh, dll) menghalangi mereka mengekspresikan diri dan kebebasan mereka.

Ketangguhan sangat baik untuk meredakan cemas dan depresi di kemudian hari. Ketangguhan itu akan didapat hanya ketika mereka bermain sendiri tanpa diprogram. Menghormati zona perkembangan mereka bisa membuat anak mengembangkan kepercayaan diri dan merasa bertanggung jawab pada tantangan yang dihadapi.

Ketangguhan bukan diperoleh dengan menghindari stress, tapi dengan bagaimana menjinakkan dan menguasainya. Bermain juga dapat membuat si anak lebih mudah adaptasi dengan kehidupan nyata kelak.

Ya, jadi kita harus merubah frame yang terjadi di budaya Indonesia ini. Anak terlalu lincah kesana sini main bukan berarti anak nakal. Siapa tahu ketika dewasa dia malah jadi orang yang kuat menghadapi dunia nyata. Anak yang peringkat satu bukan berarti sebuah hal baik. Bagaimana kalau kemudian ia malah depresi dan cemas?

Please follow and like us:
0
25 yo.
Oceanographer.

Tinggalkan Balasan