The Danish Way Of Parenting: Autentisitas

Tidak ada warisan yang lebih berharga daripada kejujuran

-William Shakespeare

Baiklah melanjutkan dari tulisan sebelumnya yang bertema Play, aku akan mencoba mengulas metode Danish Way Of Parenting yang kedua, yaitu Autentisitas. Dalam bahasa inggrisnya, authentic.  Yang telah membaca postingan sebelumnya, tentu kita ingat bahwa terdapat 5 metode dalam parentingnya Denmark yang disingkat menjadi PARENT; Play, Authentic, Reframing, Empathy, No ultimatum, Togetherness

baca juga: The Danish Way of Parenting : PLAY

Menonton Film

Pernahkah kita pulang nonton tiba-tiba ngerasa hampa dan ada negative vibes yang kita rasakan? Padahal filmnya bagus dan happy ending? Yap, itu terjadi karena kita merasa harus kembali ke realita, yang mana realita itu jauh dari keindahan dalam film yang kita tonton itu. Kebanyakan film Holywood dibuat untuk membuah kita merasa bahagia dengan menyingkirkan berbagai problem kehidupan yang sebenarnya sedang kita alami

Image result for sad
                                               sumber: https://br2n.com/work/sad

Berbeda dengan film Denmark yang kebanyakan berakhir tragis, sedih, dan suram. Kisah yang diangkat kebanyakan mengusung isu sensitif, nyata, dna menyakitkan. Begitupun dengan dongeng-dongeng yang beredar di Denmark. Kebanyakan kisah Hans Christian Andersen, sebenarnya berujung tragis dan menyedihkan. Namun yang kini kita baca telah ‘diramu’ sehingga semuanya berakhir bahagia. Kenapa? Karena mereka beranggapan hal tersebut tidak baik di dengar anak kecil

Orang Denmark percaya bahwa isu-isu negatif, kisah sedih, kenyataan, adalah hal-hal yang juga perlu dibahas dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menerima Kenyataan dan Tidak Membohongi Diri Sendiri

Menurut orang Denmark, kenyataan dimulai dari pemahaman atas emosi kita sendiri. Memiliki emosi adalah modal pengasuhan yang kuat. Bukan emosi yang ‘sempurna’ loh ya…..

Kita harus mengenalkan dan menerima setiap emosi yang dirasakan anak. Misalnya ketika sedih, jangan malah dimarahi dan menyuruh mereka untuk diam apalagi sambil marah-marah.

Lebih baik mengenalkan dulu dengan cara: kamu merasa sesak disini ya? *nunjuk dada* ohh berarti kamu lagi sedih…. Oke, gapapa nangis dulu, tapi habis lega udahan ya…

Begitupun kalau anak sedang marah, selalu dimulai dengan identifikasi sambil menjelaskan alasan kenapa dia merasakan itu: Oh, kamu marah karena gak suka ya kalau mainannya direbut? Mungkin temenmu juga ingin coba main sebentar, pinjamkan dulu gakpapa? 

Menjawab Dengan Jujur

Sesungguhnya anak kecil adalah detektor bohong yang terbaik. Aku jadi ingat sewaktu kecil aku merasa paham ketika sedang dibohongi. Ketika anak dibohongi dan mereka sadar, anak akan merasa diremehkan kemampuannya. Tentu semua jawaban jujur kita harus diimbangi level pemahaman mereka.

Sering-sering pula lah bercerita mengenai masa kecil kita kepada anak. Misalnya ketika kita sedih, atau marah. Dengan begitu mereka juga akan paham kalau yang mereka rasakan itu wajar meskipun itu adalah perasaan takut atau sedih.

Dan jangan sampai kita menciptakan si anak berada dalam situasi untuk berbohong. Contohnya? Misal dengan terlalu keras memarahi ketika mereka salah. Itu adalah situasi yang membuat mereka sangat tidak nyaman, terdesak, sehingga lebih memilih untuk berbohong.

Memuji Pada Proses, Bukan Hasil

Kegagalan dan kesalahan adalah hal yang wajar bahkan sampai kini ketika kita dewasa. Maka, mulai ajarkan kepada anak untuk fokus pada proses dan menghargai proses. Dengan cara, tidak memuji pada hasil. Misalnya si anak dapat peringkat satu. Yang kita terus ulang-ulang dan puji adalah ‘peringkat 1’-nya. Bukan bagaimana si anak di rumah belajar dengan giat. Hal ini harus diubah dengan cara fokus pada proses yang dijalani. Sehingga, kalaupun gagal, si anak ga akan merasa depresi karena selama ini kita tidak melihat hasil tapi fokus ke proses, misalnya: Wah sedikit lagi kamu menang, mungkin perlu banyak latihan lagi ya.

Biasakan Pakai ‘Bagiku’ dan ‘Bagimu’

Setiap perasaan dan karakteristik setiap orang berbeda. Ketika kita merasa A itu mudah mungkin bagi B itu sulit. Bagi kita C itu menyedihkan, mungkin bagimu tidak. Nah, sehingga hal ini juga perlu dipahami anak bahwa tidak semua hal semua orang harus merasakan yang sama. Contoh: “bagiku cuaca hari ini dingin, menurutmu gimana?”

Related image
sumber: marlacummins.com

Kira-kira begitu singkat cerita tentang Autentisitas. Penting sekali untuk mengajarkan semua emosi. Tidak ada emosi yang salah. Semuanya alamiah. Justru dengan kita mengubur dan mengabaikan emosi-emosi yang kita sangka jelek seperti sedih atau marah, ini akan menjadi hal yang membingungkan dan membuat anak jadi tidak memahami emosinya sendiri.

Karena ketika kita sudah memahami emosi, maka kita juga dapat mengendalikannya. Namun jika itu diabaikan jauh-jauh dan ‘harus selalu bahagia’, malah akan muncul akibat-akibat lain seperti depresi.

 

Sekian, selanjutnya adalah mengenai Reframing yang gak kalah penting juga….

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

30 pemikiran di “The Danish Way Of Parenting: Autentisitas”

Lewat ke baris perkakas