Lagi lagi dari ust oemar mitha.

Aku pernah baca atau denger atau mungkin dari status watsap mama, katanya: bangunkanlah anakmu untuk sholat subuh, bukan bangunkan untuk berangkat sekolah. Bahasanya lebih bagus dari itu, tapi itulah yang aku tangkep. Kenapa bangunkan untuk sholat subuh dan bukan untuk sekolah? Padahal kan intinya sama-sama bangun pagi? Yaitu agar si anak ngeuh kalo perkara akhirat lebih harus dia dahulukan, bukan perihal duniawi.

Anak adalah ‘investasi’ terbaik bagi orang tua. Bukan dalam perihal harta–seperti yang kemaren sempat ramai orang bicarakan. Tapi dalam perihal akhirat. Anak bisa menjadi syafaat bagi kedua orang tuanya. Ketika si anak masuk surga, yang pertama ia ingat adalah ayah dan ibunya, ia akan mencari keduanya. Jika ayah ibunya tidak ada di surga, maka ia akan meminta agar mereka berdua masuk surga.

Walaupun orangtuanya memiliki dosa dosa yang banyak, tetapi ketika ia berhasil membesarkan anak anaknya menjadi anak yang sholeh dan masuk surga, maka anak anak itu dapat menjadi penyelamatnya kelak.

Sebuah fitrah, bahwa orang tua akan membanggakan anaknya. Tak jarang orang tua bangga ketika anaknya pintar, good looking, dan berprestasi. Tapi seharusnya si orang tua lebih concern untuk membanggakan anaknya dalam hal akhirat. Karena itu adalah hal yang tidak akan tergerus waktu dan malah dapat menyelamatkan mereka.

Si anak bisa jadi anak yang sholeh berawal dari ayah dan ibunya. Jika si ibu sejak hamil mencintai Quran walaupun ia tidak hafal, maka itu juga akan didengar si anak. Begitupun dengan ayahnya. Meski keduanya tidak hafal Qur’an tapi selalu berusaha dekat dengan Qur’an, maka si anak yang masih dalam rahimpun akan menyerap itu semua.

Ada hukuman yang langsung diterima saat didunia; yaitu perbuatan kita kepada kedua orang tua. Ketika kita jadi anak yang durhaka, maka langsung diberi kontan anak kita juga akan memperlakukan hal yang sama kepada kita kelak (nauzubillah). Sehingga ketika kita sudah jadi orang tua dan si anak terasa bandel dan sulit, maka harusnya langsung refleksi: jangan jangan kitapun seperti itu kepada orang tua kita?

Sehingga, keinginan akan memiliki anak sholeh harus selaras dengan perbuatan kita yang juga harus baik kepada kedua orang tua, khususnya bagi seorang ayah yang sampai kapanpun ia masih menjadi anak dari kedua orang tuanya. Berbeda dengan si ibu yang setelah menikah maka tanggung jawabnya pindah seluruhnya kepada suaminya. Maka jangan sampai si ibu membatasi hubungan si ayah dengan orang tuanya, karena nanti takut si anaknya juga begitu.

Anak memiliki kekuatan yang besar, TAPI itupun kalau sholeh. Percuma kalau si anaknya fasik, karena doa doanya belum tentu diijabah 🙁

Bagi Allah, nanti diakhirat akan ada orang-orang yang ‘mandul’. Bukan orang-orang yang tidak punya anak, tapi mereka adalah orang orang yang memiliki anak tetaapi tidak ada satupun dari anak-anaknya yang berkontribusi terhadap Islam. Mereka punya anak banyak tapi semuanya cuek terhadap Islam.

Jadilah anak yang sholeh, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orangtua kita. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk keturunan-keturunan kita kelak.

Kadang kita merasa ga peduli dengan diri sendiri, tapi ketika mengenai orang -orang yang kita cintai, maka rasanya segala hal jadi bisa ditempuh dan diperjuangkan. Maka pikirkanlah dan selamatkanlah kedua orang tua kita dengan cara menjadi anak yang sholeh. Dengan apalagi kita bisa berterima kasih selain dengan cara itu?

self noteee karena ku juga belum seperti itu :(((