Gap antara ekspektasi dan realita adalah hal yang dapat membuat kita down. Terlebih jika terlalu banyak berharap pada orang lain, tanpa mengkomunikasikannya dengan benar. Kesimpulan dari orang yang tidak dewasa dalam hal ini, ia akan mengatakan: tidak ada orang yang mengerti aku.

Banyak orang merasa begitu ketika dikecewakan. Ketika keinginan dikepalanya tidak dilaksanakan oleh orang sekitarnya. Padahal setiap buku motivasi mengatakan; fokuslah pada apa yang bisa diusahakan. Jangan fokus pada segala sesuatu diluar kendali kita kecuali kalau ingin buang tenaga.

As I grow older aku merasa mulai bisa mengontrol diri dan logika. Kalau dulu kadang gampang kepikiran ke temen ketika ga diajak pergi, atau bahkan ga diundang ke acara nikahannya, dan hal hal sepele lainnya. Sekarang aku punya sekat antara urusan sendiri dan orang lain. Aku tidak mau terlalu terbawa ke dunia orang lain, kecuali teman-teman lama yang sudah saling mengorbit dan melingkar bersama sejak lama. Terkadang hilang, tapi kami punya polanya.

Dulu ketika ada orang tersakiti maka aku akan berusaha keras menghibur. Sekarang aku tidak mau sedalam itu, apalagi kini aku tahu beberapa orang bisa playing victim tanpa disadari. Fokus pada kesalahan orang ketika kesalahan terbesar ada didirinya sendiri. Sudah pernah dan aku malah seperti sponge yang mengabsorbs semua negativity yang orang keluarkan. Alih-alih menyembuhkan orang lain, mereka malah seperti menyembunyikan belati dibelakangku yang menusuk tajam saat aku mendekat. Entah orang orang yang terlalu kuat atau aku yang tidak punya pertahanan. Hebat banget sama sikolog dan sikiater, bisa ngadepin orang berbagai jenisnya dan ga ketular.

Benar bahwa, habisilah dulu dirimu sendiri lalu boleh membangun hubungan dengan baik. Atau, dengan otomatis hubungan dengan orang lain akan terbangun dengan sehat. Bahkan banyak juga orang diusia yang tidak muda masih saja memiliki banyak drama, prasangka buruk dan iri dengki terhadap orang lain. Tidak bisakah puas dengan diri sendiri? Tidak bisakah fokus pada kebahagiaan dan langkah hidup sendiri tanpa perlu membandingkan dengan orang lain? Who hurt you?

Aku menyadari ini ketika dulu pernah merasa sangat menyakiti orang. Katanya akan selalu bersama tapi malah saling menyakiti. Akupun termasuk. Aku tidak bisa all out mengurus dan peduli dengan orang lain ketika aku masih memiliki banyak hal yang perlu diselesaikan, dan aku sadar itu.

Baiklah. Centre of universe yang aku maksudkan dalam judul adalah, alangkah baiknya berhenti menjadikan diri sendiri sebagai subjek. Semua orang tidak harus selalu mendukung dan menyayangi dan menyanjungmu. Berhenti menyalahkan orang lain dengan mengatakan: ga ada yang mengerti aku.

Coba ngaca dulu, coba mulai ngertiin orang lain. Coba mulai perlakukan orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Dengan begitu secara alamiah semua akan berbalik. Buat apa menggerutu terus menerus dan selalu protes akan hal hal kecil. Sebanyak itukah energimu hingga sempat untuk selalu berprasangka dan membenci?

Kurasa tulisan ini cukup berantakan tapi semoga semua hikmah yang tercecer bisa diambil sedikit-sedikit. Reminder juga buatku sendiri. Sebetulnnya ini konten yang ngga banget. Begitupun isi RT an di twitterku, semuanya bukan bahasan aku banget. Tapi ternyata ya mau berusaha ga childish juga susah ketika terus dihadapkan dengan yang hal hal seperti ini……….. kujadi ketular drama