Islam: Between Rules and Emotions

Bismillah, semoga gak salah ngomong

Terinspirasi dari perkataan-perkataan orang di medsos khususnya twitter. Secara umum, warga twitter ini aku rasa cukup pinter-pinter dibalik kerecehan dan kemisqinannya. Namun yang kurang sreg adalah, rasanya kok semua kompak ketika ‘ngomentarin’ agama.

Salah satunya, penganut Islam yang ‘kelihatan islam’ dikesankan egois karena seolah-olah hidupnya ‘hanya’ ngejar surga. Akhirat-pun jadi bercandaan.

Apakah iya seorang muslim hidup dan beribadah ‘cuma’ untuk ‘seformalitas’ ngejar surga?

Padahal tiada satupun manusia yang dengan amalnya bisa masuk surga. Hanya Rahmat Allah yang bisa memasukkan seseorang ke surga (mengutip dari ust Salim A Fillah)

Islam bukan kaya keambisan saat kamu kuliah. Yang tujuannya untuk nilai, lalu belajar sampe lupa makan, lupa temen, gak mau ajarin temen, pengennya nilai besar sendiri. Nggak. Justru yang egois kaya gitulah yang ga akan dapet.

Meski sejak kecil diajarkan tentang surga-neraka, tapi aku lebih sering ditekankan mengenai ‘Ridho Allah’. Kita hidup bahasa ringannya adalah untuk ‘nyenengin Allah’.  Yang dampaknya, kalau Allah suka sama kita, akan dikasih surga.

Pernah dengen kisah Rabiah al Adawiyah? Yang bahkan pernah berdoa “aku rela masuk neraka jika memang itu Engkau sukai ya Allah!”. Surga-neraka udah ga ada apa-apanya bagi dia demi meraih cinta Allah.

Selama ini aku memeluk Islam merasakan berbagai tahapan. Tapi kini aku merasa bahwa Islam bukan ‘sedangkal’ surga-neraka atau ‘pahala-dosa’.  Bukan juga sekedar aturan-aturan mengikat yang bisa disandingkan dengan aturan manusia. Bukan hanya tentang benar-salah atau kafir-mukmin. Bukan cuma berhijab atau nggak seperti yang suka orang becandain.

Tapi iya, pernah juga sih aku lelah karena rutinitas. Karena apa? Karena Islam belum ada di hati dan hanya formalitas semata. Sekedar aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dituntaskan. Tidak ada keterlibatan hati.

Islam adalah kebutuhan.
Allah bukanlah bercandaan.

Pernahkah kita sholat di mesjid lalu semua orang menangis? Atau kita sendiri menangis? Ketika kita lagi ga minta apa-apa. Tapi nangis karena kangen sama Allah, karena sedih kita selalu ngecewain Allah, karena Allah Maha Baik tapi kita selalu fasik. Nangis karena ingin terus di bimbing dan dikasih petunjuk. Karena kita lemah dan hanya ke Allah bisa minta. Karena hanya Allah yang bisa ngerti.

Kalau ga bergantung ke Allah, aku tahu aku akan jatuh dan ga punya kekuatan. Itulah Islam. Menjadikan Allah bukan hanya sebagai Raja yang semua aturanNya harus dilaksanakan (berhijab, sholat, dll). Tapi menjadikan Allah sebagai Illah. Kecintaan. Tempat bergantung. Satu-satunya tali yang kalau aku lepas maka aku akan mati. (QS An-Nass: Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah).

Ibarat kalau ada keluarga deket kita diomongin orang, rasanya panas gak sih? Pun ketika Islam jadi bahan olokan dan mainan, sementara dengan itu aku hidup, kok sedih ya rasanya :”(

Meski begitu, kita semua tahu bahwa mau seluruh dunia ini fasik, ga ngaruh sama sekali sama kebesaran Allah. Mau seluruh dunia taat, ga akan membuat Allah semakin besar. Semua ketaatan dan kefasikan kita ga berguna buatNya. Tapi untuk kehidupan kita sendiri, itulah yang bikin hidup.

Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk dan hidayahNya hingga akhir hayat. Maaf kalau salah. Aku nulis inipun bukan berarti sempurna, masih terlalu banyak dosa dan aib yang ditutupi Allah serta masih banyak kekurangan.

Wassalamualaikum…maap kalo kaya ceramah :”)

 

 

Please follow and like us:
0

Which side are you on?

Bismillah

Ini adalah hasil dari kajian oleh Ust Rahmat Baequni di Mesjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta. Excited banget karena biasanya pun di Bandung aku dan kawan-kawan suka berburu kajian beliau karena isinya cukup up to date mengenai kondisi Islam di dunia masa kini. Sesungguhnya ini tulisan untuk simpenan sendiri, kalau untuk kamu bermanfaat maka hamdalah.

point-pointnya saja karena kalau cerita bakalan panjang banget:

  1. Hari akhir bener-bener deket. Semua pertanda perlahan muncul. Contoh: Dubai sudah super kaya (sesuai hadist rasul ttg kiamat), gempa-gempa udah sangat banyak (coba pantengin twiter bmkg, tiap malem selalu ada twit gempa), dll
  2. Diputerin video palestina yang sudah 60 tahun masih dijajah Israel. Sebenernya kalau mau gampang palestina bisa tinggal nyerah. Tapi apa yang mereka perjuangkan bukan hanya itu, tapi juga: Al-Aqsha, kiblat pertama ummat islam.
  3. Zionis ada 5 juta di dunia ini, dan muslim ada 300 juta. Zionis bukan hanya menyakiti Palestina, tapi juga menyakiti Islam. Namun kenapa kita semua diem aja seolah itu urusan mereka?
  4. Palestina menunggu pembelaan dan bantuan dari muslim Indonesia. Setiap 17 Agustus mereka ikut ngerayain ulang tahun RI (td diliatin videonya ya allah merinding bgt). Mereka yakin pada akhirnya Indonesialah yang akan mengalahkan zionis (dan ada kisahnya tp panjang).
  5. Ada 4 sumber tapi ga aku catet semua. Bahwa waktu jaya Israel hanya selama 76 tahun. Itu artinya, harusnya, tahun 2024 mereka sudah kalah………
  6. Ketika zionis kalah, artinya sebelum tahun 2024 akan terjadi berbagai peristiwa besar (asli takut)……
  7. Kalau diitung mundur, ketika mereka kalah itu artinya kemenangan Islam. Ada menang kalah berarti ada perang…
  8. Perang ini tidak menggunakan teknologi karena sudah tidak ada. Hanya memakai kuda dan busur panah. Maka dari sekarang harus kuatkan fisik (renang, memanah, berkuda, dan ber…apa ya satunya?)
  9. Kenapa teknologi sudah ga ada? Diawali dari peristiwa terbitnya matahari dari arah barat. Yakni pintu taubat sudah ditutup. Sebelumnya, terjadi 3 hari panjang tanpa matahari sama sekali (dan agak seru ketika aku searching google: 3 days of darkness) ga paham deh penjelasan saintifiknya, tp td dijelasin oleh beliau.
  10. Sebelum itu, dajjal sudah muncul.
  11. Manusia mengalami 3 tahun paling berat, yaitu Allah menahan 2/3 air dan 2/3 tanaman. Semua kekeringan. Di tahun terakhir, ga ada hujan sama sekali.
  12. Saat itulah dajjal datang menawarkan bantuan. Mau ujan? Mau makan? Dia kasih asal nyembah dia. Kebanyakan diikuti kaum wanita 🙁
  13. Oh ya, imam mahdi akan dibaiat sebelum dajjal muncul.
  14. Lalu nabi Isa akan turun di mesjid umayyah, suriah, setelah perang dunia beres (atau hampir beres)
  15. Saat itu, dajjal segera lari lalu dikejar nabi Isa sampai di timur Tel Aviv. Dibunuhlah dajjal tersebut.
  16. ………………………………….karena waktu singkat, jadi sebenernya belum selesai.

inti dari semuanya, yang aku petik hikmahnya adalah: kadang hidup bukan masalah sekarang atau nanti. Tapi bisa jadi “now or never”. Ibarat deadline tugas, rasnaya kaya tinggal J-Sekian yang antara pasrah tapi pengen belajar. Untungnya Allah Maha Penerima Taubat. Sepanjang ceramah, kanan kiri bertangisan pelan.

Rasanya seketika ga pengen ngapa-ngapain. Terasa bahwa kita terlalu larut dalam hal-hal duniawi. Seperti mikirin mau nonton apa, lagu baru apa yang keluar, diskonan apa di shopee, mau inves apa, dan seterusnya. Kenapa sih terlalu ga penting banget hidup selama ini? Padahal kalaupun ga nyampe kiamat, ada kematian yang ga pasti kapan datengnya.

Pernah denger dari Ust Zulkifli Ali, kita ini udah bener-bener deket hari akhir. Dan keimanan seseorang yang terbaik ada di zaman ini. Kenapa? Karena sulitnya luar biasa.

Maka, kalau mau islam, jadilah 100 persen, supaya tidak goyah dan ditimpa fitnah akhir zaman. Jangan abu-abu. Pilih hitam atau putih. Sekali milih abu, bye.

Kita ga pernah tahu bagaimana Allah mengatur dan membolak balik hati. Semoga Allah menetapkan hati kita hanya padaNya hingga akhir hayat dan melindungi dari segala fitnah dunia. Semoga juga dipertemukan dengan keluarga yang bersama-sama mencari dan berjalan hanya pada jalanNya dan dikaruniai lingkungan yang saling menguatkan.

Aamiin.

Please follow and like us:
0

How To Form A Habit

Akhir tahun paling pas rasanya buat refleksi dan mencari tujuan arah hidup tahun depan. Karena hidup tanpa keinginan atau target rasanya hampa, akan mengalir gitu aja, dan ga berkembang.

Seringnya, seperti yang kamu suka lihat dimana-mana, resolusi 2019 adalah resolusi 2018 yang isinya adalah resolusi 2017 padahal resolusi tahun 2016 yang dibuat tahun 2015…..terus aja gitu. Memang seru untuk berandai-andai dan bercita-cita. Tapi ketika itu hanya sebatas keinginan dan ga ada pergerakan, ya ngapain juga~~~

Mungkin ini beberapa tips dari apa yang pernah aku baca dan alami untuk menyelesaikan target hidup.

Realistis

Ketika ada keinginan yang terlalu jauh dan ga realistis, malah jadi males untuk mengejarnya.

Misalkan, target: tahun depan kuliah S2 di Eropa. Tapi tahun ini belum belajar bahasa, belum siapin persyaratan, belum paham mau kemana, belum ngobrol sama orang-orang berpengalaman, dan seterusnya. Sulit dong….. Misal juga targetnya tahun depan punya anak. Hee~i padahal ketemu jodoh aja belom.

Sehingga target seharusnya merupakan hal-hal yang realistis dan dapat tercapay supaya kita ga gampang menyerah.

Sadar saat ini kita berpijak dimana dan kemampuan sekarang seperti apa

Misal resolusi tahun depan adalah shaum daud sepanjang tahun, tahajjud 12 rakaat, dan dhuha 12 rakaat. Bagoooes, tapi…coba agak berkaca dulu, sekarang kita kayak gimana sih? Kalau sekarang pun sholat masih bolong-bolong, ya akan capek banget ngejar itu semua.

Mulai dari target kecil 3 bulan pertama: sholat ga bolong. lalu target 3 bulan selanjutnya: sholat tepat waktu. Dilanjut lagi: Tumaninah, lalu sholatnya selalu berjamaah, dilanjut harus sholat rawatib, daaaan terus naik naik tapi pelan-pelan. Daripada sekaligus semua sholat sunnah dilakuin tapi hanya bertahan seminggu. 

Komit dan dilakukan terus menerus (1 bulan)

Namanya habit, tentu pengennya lama-lama aktivitas tersebut dilakukan bisa tanpa sadar dan ga perlu effort sebesar ketika kita memulainya. Aku dapat dari buku How To Master Your Habit, bahwasanya kenapa alasan ramadhan dilakukan selama 30 hari, yaitu agar supaya semua hal baik yang dilakukan saat itu bisa menjadi habit kita setelah lebaran. Meski kenyataannya susah juga yaaa abis lebaran malah back to jahiliyah lagi 🙁

Referensi lain yang aku tonton dari youtube mengatakan bahwa waktu untuk membiasakan sebuah habit baru adalah: 66 hari. Ya….mari kita coba sebulan dulu, semoga lama-lama semakin ringan. Karena inilah the power of istiqomah.

Bukankah kita juga sering sekali mendengar bahwa: akhir hidup seseorang mencerminkan kebiasaan dan kecintaan saat hidupnya seperti apa dan kepada apa.

Kalau kita ingin berakhir dengan laa ilaha illallah, maka kebiasaan kita juga harus menuju kesana. Kalau kita terus memikirkan hal-hal berkebalikan, tentu ga aneh kalau lidah kita kelu, karena kita belum terbiasa.


19.45, hamdalah bisa liburan dan ga ikut survei~~

Please follow and like us:
0