go deep or go home

baiklah wahai penonton yang setia, ini tulisan rangkuman dari apa yang aku tonton mengenai karakter manusia dan pengalaman sendiri.

Aku mencoba gak mau membenci manusia tanpa alasan. Dalam artian, mencoba mengurangi prasangka dengan berbagai fakta. Misalkan, kamu berbohong dan aku tahu, kadang hal itu gak membuat aku benci tapi aku mencari pembenaran lain semisal: dia bohong karena menjaga harga dirinya. mungkin aku juga akan sama kaya dia? dan seterusnya. sehingga semua hal terasa jadi wajar.

Misal juga ada temen yang super pelit. Aku jadi nyambungin keadaan dia sekrang dengan cerita-ceritanya ttg keluarganya dan perjalanan hidupnya. Sehingga: oiya kalo aku jd dia juga akan begitu kali ya. Ada juga misal orang yang emosian mulu, jadi mikir dan nyambung-nyambungin dia dengan lingkungannya, gaya hidupnya, keluarganya, hingga akhirnya berkesimpulan: oksip, wajar banget dia jadi orang yang seperti itu karena lingkungan dia juga begitu.

Intinya adalah semua prilaku dan sifat orang, pasti ada alasan dan cerita panjang dibalik itu semua. Sehingga janganlah gampang ngejudge atau membenci.

Aku senang berspekulasi dan bermain seperti itu, tapi lupa ga mikir dan ga ngaca sendiri darimanakah ‘kelemahan-kelemahan’ yang aku punya berasal? dari lingkungan mana dan pola asuh yang manakah? ga sadar.

forces that shape your characteristics

kepribadian dan sifat karakteristik seseorang terbentuk utamanya ketika masih kecil. Berawal dari imitasi dari kedua orangtuanya. Bagaimana sifat ayah ibunya? Apakah ayahnya tegas ibunya baik? Atau kebalikannya? Atau keduanya disiplin? Atau memanjakan?

Selanjutnya adalah sifat dari anak keberapakah kita. Ini secara umum aja dan ga berlaku buat semua orang. Cari sj di google ya karena tadi aku skip dan gak kecatet.

Ketiga, karakter terbentuk dari budaya. Apakah kamu orang sunda? sumatera? jawa? bali? sulawesi? tentu semuanya beda-beda. Ada yang terbiasa berbicara halus dan pelan, ada juga yang seperti teriak-teriak padahal biasa aja. Juga misal kebiasaan-kebiasaannya berbeda. Contoh, anak lelaki padang biasanya disuruh merantau sampai sukses. dst.

Udah gitu, omongan orang juga mempengaruhi karakter orang. Kalau anaknya sering di bully dikatain bodoh, misalnya. Niscaya perkataan itu akan terus memasuki kepalanya dan mengklaim dirinya sendiri: oh iya aku emang bodoh kali ya.

banyak banget sih, tapi kemudian yang penting adalah pola asuh orang tua. Orang tua yang suka melarang akan menghasilkan anak yang sulit mengambil keputusan dan tidak ekspresif. Orang tua yang sangat memanjakan anaknya akan membuat si anak ketika dewasa jadi mudah panik dan gampang stress.

karakter ini akan tetap hingga dewasa, tapi manusia juga melakukan penyesuaian sosial sehingga porsi dan tampilannya akan berubah-ubah.

how to know one’s characters?

  1. keluarganya, sudah pasti
  2. besar dimana dan perjalanan hidupnya seperti apa
  3. topik obrolannya seringnya mengenai apa.
  4. bagaimana persepsinya mengenai uang?
  5. dan lain-lain (banyak banget tapi ini aku tulis yg dia bilang saja)

sebuah one thing to note, jangan kita lihat dan menyimpulkan orang hanya dari medsos. Misalnya aku ni. Janganlah menyimpulkan dari blog ini karena apa yang aku tulis adalah ide-ide saja. Aku bukan apa yang aku tampilkan dan aku tulis. Semua yang buruk-buruk tentu aku simpan sendiri. Kalau mau dibilang munafik, ya mungkin emang, karena buat apakah menyebarkan hal-hal negatif dan aib sendiri?

Jangan juga melihat sifat orang kalau dia lagi ‘dekat’ sama kita. Karena pastinya dia akan menunjukkan segala hal terbaik saja. Biasanya kalo aku si, mengamati bagaimana dia memperlakukan orang lain. Sesederhana bilang permisi ke yang suka nyapu jalan, misal. Atau ngebantuin orang-orang lain selain kita. Intinya adalah jangan bodoh ajalah, hehe..

Tapi ngapain juga kita ngurusin orang lain, lebih baik berkaca dulu seperti apakah diri kita dan mau apakah kemudian?

23:38
rip my holy saturday karena harus ngantor bsk!!! 🙁

Please follow and like us:
0

The Perks of Having Cat(s) as Your Pet(s)

Baru di tahun 2017 aku menyukai kucing, setelah sebelumnya nyentuh aja takut. Memang Allah Maha Pembolak-balik hati. Dulu kami cuma berani melihara satu, setelah banyak mengalami pergantian personil, lama-lama sekarang malah ada 6 T.T

Baik curhatnya udahan, jadi ini yang perlu kalian persiapkan jika mau memelihara kucing:

Pengeluaran bertambah. Karena beli makanannya, beli litter box, beli pasir yang sebulan sekali. Belom kalo sakit. Lalu ia dimandiin at least 2 bulan sekali. Tapi kalo udah sayang sih ya jadi bodo amat gitu. Kadang malah lebih baik mereka makan tapi aku puasa :”)

Rumah jadi takut ga higienis. Kadang mereka tidur di kasur aku (karena pintunya ga ditutup), atau ketika lagi rontok, bulunya jadi kemana-mana. Solusinya adalah semua kamar harus ditutup, dan ada ruangan khusus (apalagi kalo kucingnya udah banyak).

Kalau masalah pup dan pipis mereka sudah pintar dari sananya, terima kasih Allah. Oh ya, pasirnya kalo kami pakai pasir yang meredam bau. Kalo pun ga meredam, mereka akan nutupin sendiri dan mereka pun malu dan ga nyaman kalau pup/pipisnya nya keliatan atau kecium.

Merka harus di vaksin, atau kalau ingin steril, steril aja sekalian (tp mahal sekali). Harus di vaksin karena tiap pergantian musim suka ada aja yang kena distemper 🙁 yakni sebuah virus tanpa obat yang bisa bikin cepet mati.

Kalau mereka sakit/mati, ya Allah sakit banget rasanya :”( ini ga bisa diungkapin gays apalagi kalau sudah ada bonding. Sampe dulu waktu si zul (yg paling sahabatqu) mati, aku ngebatalin reuni dan segala janji karena ga sanggup aja gitu.

Suka ngerewind kenangan mereka. Misal nih ya ngeliat boneka putih (yang suka jadi bantalnya si zul), bisa langsung sesedih itu. Liat kresek yang biasa jadi mainan dia, atau bola kecil, rasanya sesek banget. Sama lah kaya kalo misal kita jalan-jalan gitu ketempat yang ada kenangannya, sakit juga kan (sampah bener).

Mereduce stress. Mungkin karena dirumah ga ada maenan kali ya (nayra udah gede) jadi punya kucing berasa kaya punya bayi. Kalau denger ayah main dan ngobrol sama kucing, buset udah kaya ke cucu meskipun belom punya :)))

Punya temen kalo kesepian. Kalo lagi sedih, kerasa banget hiburannya. Kalo kalian suka liat video di IG tentang kelucuan kucing, maka kalo melihara malah jadi skeptis gitu sama video kucing. Berasa gini: kucing aku bisa lebih lucu dari kucing-kucing di IG!! wkwkwk tapi sumpah sihhh bener-bener hiburan

Tiap kucing karakternya beda. Meski aku jarang banget pulang, baru kemaren dua hari dirumah dan ketemu baby-baby kucing, udah keliatan karakter masing-masing kucing. Si Kiara yang maceuh banget, si Nala yang cantik dan sok cantik, si Aslan yang manjaaaaaaa banget, si Lili yang penakut dan suka insecure (tapi jadi kasian:( ), atau Lala yang suka marah-marah ga jelas apalagi setelah ketemu Betina (kucing tetangga).

Kalau malem, khususnya jam 3 hingga 5 pagi, mereka suka tiba-tiba duduk deket muka kita, bahkan ada kucing yang suka ngejilatin pipi/kuping. Karena minta makan atau minta disayang lalu mereka akan tidur sebelah kita, huhu.

Kira-kira itu dulu, all in all, memelihara kucing itu bukan hanya siap dengan kebahagiaan kalian bersamanya dan bukan hanya sekedar melepas kesepian dan mencari hiburan, tapi juga harus siap ketika mereka sakit (kalau sakit, harus disuapin, badan mereka akan kotor banget karena ga bisa jilat sendiri, dan kita jadi udah ga ada jijik-nya aja gitu), dan terpenting: siap mental untuk ditinggalkan. ini cape hati banget sumpah perihal sakit dan mati ini, kalo bisa ga melihara sih mending ga melihara sekalian. ~Tapi yauda sih sekarang juga aku tida tinggal di rumah wkwk.

22.03

Akhirnya setelah 3 purnama tidak olahraga proper, magrib tadi renang juga di UNY.

da0lb0tvaaa1hp_-1673457776.jpg
Lala, kasurku, jendelaku.
Please follow and like us:
0

Anak soleh #1

Sebenernya rada males gimana gak si ngebahas mengenai parenting atau pernikahan bagi orang yang masih single. Nanti disangka ngebet apa gimana. Padahal nggak bermaksud begitu, kalau ditanyai orang rumah atau orang lain masih males (bgt) kok jawabinnya.

Tapi ya realistis aja, kita gatau apa kedepannya, apakah kematian atau berumah tangga, dan persiapan keduanya tentu dibutuhkan. Awal tahun aku dinasehatin oleh bunda, (yaitu temen mama) bahwa harusnya kalau bisa sejak kuliah kita udah belajar jadi orang tua. Selain untuk nanti, kita juga skrg bisa menempatkan diri sebagai anak yang baik untuk orang tua kita.

Baik lanjut ke materi yang aku dapat, secara kelas online, tapi gak disebut sumbernya karena nanti disangka iklan wkwk

Sejak kapan mulai mendidik anak?

Kita tahu bersama dari sebuah hadist tersohor mengenai amal jariyah yang ada 3: sedekah, doa anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Ketiganya tidak akan putus meski manusia sudah wafat.

Dari situlah kita dapat memahami pentingnya punya anak sholeh (atau jadi anak sholeh bagi kedua orang tua kita) karena mereka adalah penerus amal kita, sebagaimana kita jadi penerus amal ortu kita juga.

Ada sebuah kisah ketika si anak sholeh disuruh masuk surga. Anak itu gak mau, karena ingin kedua orang tuanya juga masuk surga. Maka, akhirnya ayah ibunyapun ikut masuk surga. Sebegitu dahsyatnya bantuan anak sholeh kepada kedua orang tuanya.

Didalam Quran, terdapat 17 tempat yang membahas pendidikan anak. Satu mengenai anak dan ibunya. Satu mengenai anak dan kedua orang tuanya. Dan sisanya, 15 mengenai ayah dan anaknya. Sehingga ternyata meski ibu adalah madrasah pertama, ayah juga berperan penting dalam pendidikan anak.

Ada sebuah kisah di jaman Umar bin Khattab yang mana seorang ayah mendatanginya dan mengeluhkan anaknya yang durhaka. Si anak itu dipanggil, dan ditanya kenapa. Anak itu menjawab: seorang ayah punya hak yang harus ditunaikan anaknya, dan seorang anak punya hak yang harus ditunaikan ayahnya, benar?

Umar mengangguk. Anak itu bertanya, apa hak saya yang harus ditunaikan ayah saya?

Umar menjawab: kewajiban ayah pada anaknya adalah memilih ibu yang baik, memberi nama yang baik buat si anak, dan mengajarkan Al-Quran.

Anak itu lalu berkata, saya dibilang durhaka begini karena ayah saya tidak melaksanakan ketiga hak tersebut.

Jadi mendidik anak dimulai dari sejak ada pikiran terlintas untuk berumah tangga dan mencari ‘ibu’. Kalau kita perempuan, maka jadilah ibu yang pantas dengan terus improve diri.

 

4/12/18 22.32 hujan di jogja.

Please follow and like us:
0