Aku gampang banget lupa hal hal mengenai; film, buku, atau tempat bagus. Misal sekarang nih nonton A, minggu depan ada temen temen yang bahas, pasti aku cuma melongo doang ‘kok kaya tau…’ terus 10 windu kemudian baru ngeuh ‘oh iya aku juga pernah nonton kemaren’. Sama kaya buku dan tempat-tempat bagus. Gampang banget ilang dari ingatan.

Tapi satu buku yang membekas banget adalah ‘danish way of parenting’ walau aku belum jadi parents tapi menurutku isi buku ini applicable untuk segala jenis kehidupan manusia.

Barangkali ini adalah kultur orang indonesia, tapi gatau juga sih, cuma secara umum yang aku lihat di sekeliling sih begitu. Yaitu we tend to hide our feelings and opinions if we think it would not necessary for others. Sekarang aku baru ngeuh kalo it would lead into disaster, if you always buried them.

Setelah kemaren-kemaren denger tentang inner-child, aku selalu nganggap ‘kayaknya inner-child aku sih aman deh ga ada apa-apa’. Tapi setelah aku pikir lagi, hal yang menjadi burden buatku hari ini datang dari masa kecil yang belum terpuaskan secara emosi.

Salah satunya adalah semua ‘rasa negatif’ sekecil apapun yang aku rasakan, aku selalu simpen sendiri. Aku selalu punya pikiran: kalo ini ga ganggu orang lain, then let it go, dalam artian: telen aja sendiri. Aku juga percaya kalau kita ga boleh sedih atau nangis atau marah. Kita ga boleh kecewa. Kalau itu muncul, solusinya: simpen aja sendiri.

Mungkin sampe kuliahpun (atau sampe skrg) selalu begitu. Dan yakin banget banyak orang juga sama. Itu ga sehat banget. Selain itu, aku juga terlalu mengecilkan diri sendiri. Bahwa yang aku rasakan itu ga penting. Gapapa menyakitkan juga asal ga ganggu orang-orang di kanan-kiri. Aku bisa handle itu. Padahal engga juga, karena itu jadi penghambat untuk gerak.

Paling salah lagi, kalau ada orang yang menyakiti atau membuat kita ga enak, lalu we pretend like it’s fine. Padahal bisa jadi itu menghantui bertahun-tahun. Contoh paling sederhana, ketika dimasa kecil mengalami broken home, yakinnn banget mau si anak bilang ‘gapapa’ juga pasti luka nya akan kebawa sampai besar (notttt my experience). Cuma pura-pura gapapa aja. Sebenernya ada cara gampang menyelesaikannya: komunikasi. Gak gampang deng.

Terutama anak kecil, walau keliatannya ga penting karena mereka ga ngerti, tapi mereka akan memproses semua yang terjadi di sekelilingnya. Aku juga inget, kalau aku masih punya ingatan-ingatan signifikan dimasa kecil yang orang dewasa akan berpikir ‘yah masih kecil ga akan ngerti’ padahal kan ngerti….

Solusi:

Jika ada orang memperlakukan kita ga adil dan menimbulkan traumatis buat kita, maka berbesar hati untuk mulai ngobrol. You’re not fine, and people dont care. But your life matter.

Kalo di masa depan punya anak: please tell me how’s your life is going? what makes you sad and down–even if you think it’s not important, feel free to tell me? We’ll try to figure it out.

Feelings are not disgusting. Sad and angry are not prohibited.

Oiya jadi inget juga, pertama kali baca bukunya retno hening (mungkin 4 tahun lalu) isinya juga begini. Dia selalu meng-encourage kirana untuk jujur terhadap perasaannya. Gapapa nangis, tapi ada batas waktunya–senyamannya si anaknya aja. Penting untuk mendefinisikan semua roller-coaster of feelings dan jangan hanya fokus untuk terlihat happy.

Ketika kita bisa mendefinisikan all kinds of feelings, then we’ll have the ability to control them as well.

Beda kalo kita mencampur aduk semua perasaan dan bahkan kadang kita ga ngerti kalau kita lagi merasa sakit. Itu akan jadi ga ke kontrol dan menimbulkan hal buruk di masa depan.

Kita bisa lihat sendiri contohnya dari orang orang terdekat. Dulu sih rasanya fine fine aja. Iya, mungkin sedih bentar, tapi abis itu ya hidup hidup aja dan pengalaman itu ‘pura-pura’ dilupakan. Eh ternyata rasa traumatisnya malah bisa muncul mendadak di masa depan dan jadi hal yang sangat mengganggu. Lebih mengganggu kalo itu malah membuat kita butuh psikolog/psikiater. Kan mahal ya…….