blocking (friendship)

Januari sudah hari ke-16 dan terlalu banyak hal yang terjadi di 2020 ini. Dalam hal berita-berita seluruh dunia, berita-berita dari lingkar terdekatku, perkembangan pekerjaan di kantor yang seharusnya awal tahun masih merancang, tapi malah sudah sibuk, dan aku…yang jusru mundur dari resolusi dan target yang ingin dicapai.

Tapi tulisan kali ini bukan tentang itu semua, melainkan aku yang berbicara dengan diriku sendiri.

Di usia yang sudah melewati 25 ini, aku merasa sangat butuh saving energi. Terutama karena aku tinggal jauh dari keluarga; yang mana mereka bisa mem-full kan energiku dengan mudah. Cukup pulang, bertemu Nayra, atau kucing-kucing, atau nonton sama mama, semua itu bisa mengescalate energiku yang dihabiskan oleh yang lain.

Pertama, aku aware bahwa kelemahanku adalah; 1. sangat ga bisa nolak dan 2. listeningku >>> talking

Kombinasi dari ga bisa nolak dan ga bisa cerita (kebanyakan jadi pendengar) selama hidup 26 tahun ini membuat energiku cukup terkuras. Oke, yang nomor dua aku ga bermaksud sok baik, tapi kesulitanku untuk merasa nyaman dan aman sama orang lain sangat sangat sangat susah. Sehingga aku lebih memilih menyimpan semua unek-uner dan menyimpan “be yourself” ku sendiri. Mungkir terlihat fake, tapi aku gak bermaksud, aku hanya ga mudah dekat. itu aja. Tapi aku senang mendengarkan orang. Dalam kadar yang wajar. Mungkin aku juga bisa bercerita lepas, dan itu artinya aku sudah percaya.

Jahat-jahatnya sih aku mau bilang, mungkin banyak orang merasa dekat dengan aku, karena mereka cerita dan nyimpen rahasia. Tapi sebaliknya, ga sedikitpun aku cerita ke mereka. Terkesan jahat, tapi aku ga bisa aja, tapi aku juga seneng bisa dipercaya.

Namun ada orang berkata, bahwa ketika kita sudah tahu banyak tentang orang lain, maka mau gak mau kita jadi mudah terlibat dalam cerita mereka. Aku setuju. Dan itu yang kini aku sedang hindari.

Bukan aku tidak mau bantu teman, bukan aku tidak mau mendengar lagi, tapi aku juga butuh self-love dan kebahagiaan dalam hatiku sendiri. Aku ingin mengurusi diri sendiri.

Efeknya, kalau dulu aku sering pergi keluar sama temen berdua doang sambil deep talk yang kadang kebawa-bawa sampe nginep, sekarang aku menghindari itu. Kalau keluar sekadar makan, nonton, main sebentar, aku masih bisa diajak (kadang). Tapi ketika aku menjadi “tong sampahnya” aku akan mundur pelan.

Menjadi pendengar akan mengikat, orang akan mudah nyaman, dan jadi bergantung sama kita. Dan aku yang susah nolak? Gak akan bisa menghindar ketika orang sangat butuh aku. Semua energi yang dia limpahkan akan terserap olehku. Dan aku yang susah ‘lepas’ ini harus kemana?

Aku sekarang sering merasa sangat egois dan jadi manusia paling jahat ketika melangkah mundur dan menjaga jarak sama semua orang. Kadang dikamar kepikiran, tapi balik lagi, aku punya dua opsi: menjadi pendengar dan gak akan ada prasangka dari orang lain tapi bakal capek. Atau aku punya energi banyak tapi orang mandang aku jelek (karena gak bisa diandalkan).

Aku sudah biasa milih yang pertama, dan sekarang harus pilih nomor dua, karena aku butuh privacy dan space untuk diriku sendiri.

Pertemanan sewajarnya aku masih bisa terima, dan sebagai makhluk sosial pasti aku juga butuhlah.

Salah satu efek buruk dari yang aku lakukan ini adalah; kadang envy juga melihat kedekatan pertemanan orang lain. Ketika orang lain kok bisa saling deket dengan cepat, tapi aku nggak. Lalu aku sadar, memang aku yang memilih itu. Salah sendiri.

 

 

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas