Barometer

Ingat sekali jaman dulu pernah ada yang nanya, apakah kamu orang beriman?
Mau menjawab rasanya serba salah. Bilang iya, tapi kelakuan kadang ga mencerminkan hal itu. Bilang enggak pun, tapi aku percaya pada Allah dan Rasul meski masih ga PD untuk bisa bilang seperti itu.

Diam menjadi jawaban atas kegalauan kami. Akhirnya, jawabannya jadi gini, inginnya sih jadi orang beriman, dan saat ini semoga kami sedang dalam proses menuju itu.

Ternyata mengenai kata “beriman” tadi lumayan terjawab di kelas intisari Quran oleh ustad Syahid di Mesjid Al latif kemarin.

Barometer keimanan bukanlah saat kitaa ngaku beriman. Bukan saat si ktp bertuliskan Islam. Bukan berarti saat kita rajin solat dan zakat otomatis jadi orang beriman.

Barometer keimanan adalah ketika kita dihadapkan berbagai musibah, lalu kita tetap istiqomah berada dalam keyakinan Islam dan kembali ke Allah, maka itulah iman.

Aku akui ini hal yang sulit. Saat diterpa ujian rasanya selalu jadi orang ga sabar yang ingin mengeluh bahkan memaki. Malah lebih milih dengerin lagu lagu yang menghibur daripada denger Quran. Yah sabar menjadi amunisi bagi orang beriman dalam menghadapi hidup. Sabar untuk terus berada di jalan Allah, mskipun orang lain membencinya.

Jangan fokus pada ‘kesialan’ yang dihadapi diri sendiri, lihat sejarah orang sebelum kita. Seperti Nabi Zakaria yang kepalanya di penggal, nabi Muhammad yang diliputi fitnah, Zainab Al Ghazali yang dipenjara dan disiksa di Mesir, Asiyah yang keluarganya dimasukkan kedalam kuali.

Yang namanya beriman pasti cobaannya sangat besar, dan mereka selalu bisa sabar. Saat kita diterpa ujian idealnya justru harus semakin kuat. Karena toh tidak pernah ada contoh orang yang beriman tapi hidupnya enak dan dicintai seluruh ummat manusia.

(Al-`Ankabūt):2 – Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

gdfg


Tinggalkan Balasan

2 pemikiran di “Barometer”

Lewat ke baris perkakas