Another Stage of Life?

Satu hal yang kini mulai aku pikirkan adalah mengenai membangun rumah tangga. Ketika orang seusiaku sudah mulai sebar undangan, aku masih mencoba keluar dari kungkungan keegoisan diri. Ini bukan perihal kode-kode pengen cari jodoh, tapi lebih dari itu, pernikahan, mendidik generasi, dan membangun rumah tangga adalah hal yang sangat serius perlu dipikirkan. Toh ketika memutuskan memulai, maka itulah yang akan terus bersama kita hingga ajal menjemput.

Ini bukan masalah sesimpel udah bertemu jodoh atau belum. Kalau sudah ada niat kuat, pasti Allah akan kasih jalan, kita pun otomatis akan berusaha. Tapi masalahnya adalah, dalam An-Nisaa, pernikahan disebut sebagai “mitsaqon ghalidza”, perjanjian/sumpah yang agung. Beuraaaaaat.

Aku mulai sedikit-sedikit baca mengenai ini ketika mengetahui kemuliaan perempuan terletak pada ketaatannya pada suami dan bagaimana ia mendidik dan menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Kalau mau ngejar dunia dan ga mikirin akhirat sih enaknya hidup suka-suka aja kejar karir sampe puas lalu kenalan sana-sini. Tapi hidup itu dua kali, sekarang dan nanti. Aku hidup sekarang untuk kehidupan yang nanti.

Pertama, alasan aku merasa itu masih hal yang berat adalah, sulitnya menerima orang lain.. Zuper sulit, apalagi aku cukup introvert dan lumayan butuh banyak waktu menyendiri, melakukan hal-hal yang suka-suka aku sendiri. Alhamdulillahnya pernikahan berada di bawah naungan aturan Islam dan terikat dengan perjanjian yang jelas, jadi udah ga ada lagi kalo ilfeel boleh males dan bye, kalo dia nya genit langsug dadah, dan drama-drama lainnya. Jadi akan ada banyaaaak alasan kuat untuk bertahan meski (nauzubillah) tidak nyaman.

Kedua, yang namanya “taat” itu, ga sederhana. Bagaikan menyerahkan hidup pada orang lain. Maka, sangat penting untuk menyamakan visi misi hidup sebelum memulai kehidupan bersama. Ga sekedar karena dikejar umur ataupun dikejar pertanyaan. Ini juga nih, susah. Masih ingin rasanya main-main dan……..males ga sih diatur-atur? Tapi justru itu letak kemuliaannya. Dalam An-Nisaa juga sudah banyak larangan untuk seorang suami mempersulit istri. Jadi selama sama-sama meyakini Islam, insyaa Allah ga akan menyusahkan.

Ketiga, masih ingin deket sama keluarga.

Yah begitulah, aku baru baca-baca dikit ehhh yang muncul dikepala malah perasaan berat dan mikir sampai kapan aku masih nyaman dengan diri sendiri terus. Semoga lama-lama kesiapan semakin matang seiring Allah mempertemukan dengan pasangan hidup. Semoga dipertemukan dikala aku sudah siap 100 persen untuk “taat” dan siap mendidik generasi-generasi yang mulia dihadapan Allah SWT. Semoga bukan hanya satu visi misi, tetapi menyenangkan hati. Karena ini, sampai mati.

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Satu pemikiran di “Another Stage of Life?”

Lewat ke baris perkakas