I’ve just heard one theory that basically the same as what I wrote here. 

Sebelumnya ku menulis bahwa apa yang kita lakukan hari ini, bukanlah proyeksi dari apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kita bisa untuk memilih ‘detach’ dari segala yang telah kita lewati dan memilih untuk lebih terikat dengan tujuan daripada sebab dan alasan.

Dan ini sangat relate dengan apa yang terjadi pada pikiran dan hati kita.

Sama dengan apa yang kita lakukan, kalau itu ga dipaksa, maka itu akan jadi hasil proyeksi masa lalu aja dan ga akan kemana-mana. Juga dengan apa yang kita rasakan. Jika kita tidak berusaha berubah, maka apa yang dilakukan oleh hati dan pikiran hanya akan selalu tergantung pada kejadian yang telah dialami.

Dicontohkan seseorang yang memiliki experiences yang buruk. Marah, kecewa, frustasi, itu adalah hal-hal yang dia dapatkan dari pengalaman hidupnya. Terlebih jika itu terikat dengan seseorang. Kabar buruknya, otak kita adalah benda yang objektif, jika kita melihat sebuah gambar atau tulisan atau apapun yang mengingatkan akan semua kompleksitas pengalaman di masa lalu, maka si otak ini akan men-train kita seperti “sedang mengalami” kejadian itu dan bukan hanya sekedar memori.

Ini akan berakibat buruk, dan tubuh kita akan otomatis berubah menjadi “survival mode”. Survival mode, artinya dia akan kembali mengeluarkan perasaan takut dan kecewa dan segala yang negatif yang persis sama dengan yang dulu pernah dia alami.

Jika hal ini terjadi terus menerus, maka ‘inbalance’ ini akan berubah menjadi ‘new balance’ sehingga akan terus tertanam di subconscious mind/alam bawah sadar orang tersebut. Lama-kelamaan fokus dan energi yang dimiliki oleh si hati dan otak ini bakal terus-terusan terfokus pada survival mode. Dia ga akan ada waktu untuk yang lain karena sudah kehabisan energi.

That’s the reason why someone seems like difficult to build a new relationship. Karena si cara kerja subsconscious mind-nya yang dalam survival mode tadi sudah terlalu terkuras banyak dan jadi ga ada kekuatan untuk memulai sesuatu yang baru.

Sama seperti yang dibilang Adler, maka untuk keluar dari loop tersebut, kita harus memprojeksikan tujuan, menuliskan, dan membayangkan bahwa apa yang kita inginkan akan terjadi dimasa depan. Ini akan mengubah si subsconscious mind yang terbiasa diliputi perasaan negatif, menjadi fokus ke hal-hal yang positif.

Bukan hanya berpengaruh pada diri sendiri, dalam tindakan pun kita akan menjadi lebih bebas dan terbuka. Si hal hal experience di masa lalu akan lepas, sehingga kita ga akan berada di survival mode lagi, dan that’s why you can open up your heart.

Jika hati sudah bisa terbuka dan tidak clingy pada pengalaman-pengalaman, maka dia akan selalu siap dengan apapun didepannya. Dengan meniadakan si survival mode/pengalaman negatif di alam bawah sadar, itu adalah saat ketika kita bisa merasa whole dengan diri sendiri.

Seseorang dengan hati yang penuh dan tidak kekurangan, ga akan mencari-cari dan meng-absorp orang lain. Dia hanya akan fokus pada memberi dan memberi, yang dilakukan dengan senang hati. Sebaliknya, jika dia adalah seseorang yang masih “lack of something” maka dia akan menyerap energi orang yang bersamanya dalam berbagai sikap negatif: anger, possesive, tidak percaya, dan terus mencari apa yang bisa dia dapat darinya.

Jika orang yang sudah full bertemu dengan seseorang yang whole juga, maka ibarat gelombang, akan beramplifikasi dan saling menguatkan. Kalaupun pada akhirnya mereka bermasalah dan akhirnya tidak bersama, itu ga akan jadi masalah karena pada awalnya pun dia sudah whole. Keberadaan orang lain hanya akan memperkuat, sehingga kalaupun tak beresonansi lagi, gelombangnya turun, tapi akan tetap ada di garis y yang positif, bukan nol apalagi negatif.

—-

seru ya baca-baca yang psikologi2 gini apalagi teori-teori doang.
karena kalo dilaksanakan mah mungkin susah yaa