Sepertiga

Sepertiga kali kedua malam itu aku terbangun. Aku mendengar isak tangis lagi, lalu lantunan ayat-ayat suci. Setengah jam kemudian masih terdengar. Masih wajar. Lalu satu jam. Tak apa-apa. Dua jam, rasanya mulai janggal. Seperti De Javu. Persis tahun lalu.

Tiga jam. Lantunan ayat suci masih terdengar. Aku masih mengerjakan pekerjaanku. Aku akhirnya sudah berani bertanya lagi dengan was-was pada diri sendiri, perasaan takut menyergap sempurna.

“ada apa?”

Kuharap bukan perihal sejenis permasalahan orang ‘dewasa’. Dulu semua bisa akting baik-baik saja, padahal setiap sepertiga malam semua penghuni menangis tersedu.

20160204-110342-PM.jpg

 

#fiksibelaka

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas