Dalam Forever Winter (from the Vault)(tay’s version), aku merasa disitu ada cerita dan ketulusan yang mirip dengan Seven atau Renegade. Tentang seseorang yang sedang ‘breaking down’ tapi disemangati oleh teman lainnya dan dia bisa stay disitu. (kalo real nya dia nulis itu untuk temennya yang meninggal sih.)

Kalo dulu ngedenger kalimat kaya gitu ngerasa biasa aja karena belum relate. Tapi hari ini, ketika sudah beberapa kali menghadapi teman yang ada dalam the lowest low point of their life dan sebaliknya, saat aku merasa ‘unavailable’ buat semua teman, maka Forever Winter, Seven, dan Renegade rasanya jadi dalem banget dan baik banget. I dont need therapist, I need Taylor Swift write smth like Forever Winter for sosososo many times. Kaya lagi mo nangis tapi di pukpuk in.

Bukan hal yang gampang untuk selalu ada dan bertahan sama orang-orang yang sedang ‘down’. Kalo jaman dulu mungkin ini artinya nemenin temen yang sekedar abis putus atau masalah apalah gitu yang mana kita cuman tinggal nemenin doang sambil nginep dengerin dia nangis dst. Kukira itu adalah bagaimana definisi dari ‘selalu ada’ dan ‘stay’. Tapi ternyata lebih dari itu. Karena gitu doang mah banyak yang bisa.

Tapi sulit adalah untuk stay ketika seseorang down dan berubah sehingga jadi memiliki beberapa behaviour yang ga biasanya dia miliki. Ketika aku yang biasanya menjadi seorang ‘good girl’ dan selalu bisa menjadi ‘my friend’s therapist’ tapi kemudian memiliki sifat menyebalkan dan energi negatif; selfish, tidak bisa angkat telfon dan video call, tidak bisa jawab chat, tidak bisa bantu, rasanya banyak yang meninggalkan dengan asumsi masing-masing.

Wajar, aku juga pernah (dan sering) merasakan sebaliknya, ketika orang-orang terdekatku memiliki energi negatif yang sangat banyak dan aku merasa susah menggapai itu semua. Semakin aku mencoba mendekat, malah merasa ga sehat untuk diri sendiri. Ini bukan hal gampang untuk mau ‘menemani’ seseorang dalam the worst part of their selves karena artinya kita juga akan mengorbankan sedikit ‘insanity’ kita.

So, people would rather choose to leave. It’s much easier for them than stay and try to understand.

Tapi pasti ada orang yang worth the pain, keluarga, misalnya. Kalo lagi dalam fase seperti ini, kalimat yang pas mungkin; ‘i love you and it hurt me much!’

thank you Forever Winter for existing!