Till the day i die

Mungkin benar bahwa seharusnya motivasi terbesar kita dalam hidup adalah: mati.

Dengan menyadari bahwa semuanya hanya sementara, dunia akan selalu terasa kecil. Ketika terhimpit permasalahan materi, kewarasan tidak akan hilang, karena toh itu tidak penting. Ketika bermasalah dalam pekerjaan, seharusnya tidak akan terlalu bersedih, karena hidup kita bukan untuk bekerja.

Sering mendengar orang yang jadi gila setelah bangkrut, tapi aku juga melihat orang yang telah tertipu habis-habisan namun tetap bertahan seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal yang jadi gila, hanya mengalami kerugiaan jutaan. Yang tetap bertahan, kerugiannya mencapai milyaran. Ini bukan soal angka, tapi bagaimana hati masing-masing bisa menerima.

hal-hal paling penting

Kita akan merasa sakit sekali dan sedih sekali ketika hal paling penting dalam kehidupan kita terganggu. Maka jangan jadikan dunia menjadi hal yang penting. Kalau kita merasa dunia tidak penting, maka mau naik turun segimanapun kita akan tetap hidup dan bertahan untuk percaya sama Allah, kalau pertolongan pasti datang, kalau kita ga akan diberi masalah melebihi kapasitas diri.

Sejak kuliah, aku berfikir bahwa menjadi dosen adalah profesi yang pahalanya akan terus mengalir hingga aku mati. Karena aku mengajarkan ilmu kepada mahasiswa, dan ilmu akan terus hidup jika disebarkan dan digunakan. Itulah alasan setelah lulus aku langsung mencari kuliah lagi.

Tapi Allah punya rencana lain, aku tidak diterima beasiswa, dan malah masuk PNS disebuah lembaga penelitian (kurang lebih). Pada awalnya aku merasa mengkhianati diri sendiri. Mencari lagi apa yang aku cari.

Kalau aku kerja kantoran seperti ini, kalau aku mati aku bisa apa? Apa aku hidup untuk cari uang aja?

memahami peran

Tapi coba pahami lagi peran diri saat ini. Menjadi seorang anak. Maka surgaku ada di kedua orang tua. Sebagai tambahan, jadi manfaat untuk orang lain. Yang kedua, aku tidak tahu caranya.

Kelak, ketika menjadi seorang ibu, maka anak-anak akan menjadi potensi penyelamat kita di akhirat. Pun seorang pasangan, akan menjadi ladang pahala untuk kita yang semoga akan saling tolong menolong di dunia dan akhirat.

Rupanya semakin menjalani pekerjaanku kini, aku merasa kebermanfaatan untuk orang banyakpun bisa dilakukan. Apalagi di lembaga pemerintahan yang hasil kerja kita langsung diaplikasikan dalam masyarakat. Bidangku kini kebencanaan, dan harusnya itu akan benar berguna untuk banyak orang, meski mungkin andilku hanya 0,00009 persen dari keseluruhan.

tambahan

Aku jadi mau mengingatkan diriku sendiri lagi. Akhirat bukan dicapai dengan keegoisan saja, dengan terus beribadah untuk diri sendiri. Kata orang sih agama itu urusan privat, tapi menurutku kalau kita bisa menebar kebaikan ke orang lain kenapa tidak? Karena justru yang berdampak ke orang lainlah yang akan menjadi multipliers bagi amalan kita. Mungkin amalan kita cuma 1. Tapi ketika disebar dan berlipat ganda, saat mati kita bisa kaget karena betapa hal sesepele itu bisa menolong kita.

Mungkin salah satu motivasiku menulis ‘hal-hal yang sok alim’ di blog inipun begitu. Aku ga peduli mau dibilang sok baik atau sok alim oleh orang yang dengki. Tapi aku mencoba menceritakan hal yang bisa diaplikasikan dan menjadi pencerahan bagi mereka yang menerimanya.

Tapi aku juga manusia, saat menulis ini ide dikepalaku sangat idealis, namun esok kamu bisa lihat tulisan sampah di blog ini. Esok aku juga akan labil lagi.

Selain itu, kalau pesan ayah kemarin sih, kalau bisa harus mencari kegiatan berkomunitas yang bisa memberi manfaat untuk orang. Semisal ikut komunitas di mesjid, dan seterusnya. Well, bagiku itu masih belum terjadi dan perlu mengumpulkan niat lagi.

Semoga kita dapat mencari berbagai celah untuk menebar kebaikan. Semoga semua kebaikan dan manfaat yang bisa kita berikan, dapat berlipat-lipat dan awet hingga kita mati.

Jangan sampai saat mati kita hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Jangan sampai saat mati kita baru sadar yang dicari selama ini hanya hal materil yang dalam sekejap hilang saat nyawa tercabut; harta, pekerjaan, kecantikan, dan pride. Mulai membekali diri untuk hal yang abadi; ilmu, mengajarkan ilmu, sedekah, dan kebaikan untuk banyak orang.

 

To the fullest

Didapat dari kajian oleh Ust Adi Hidayat dua minggu lalu di Nurul Ashri, Deresan, YK. Materi ini pernah juga di TSM bandung dua-tiga tahun lalu. Tapi menurutku kalo hal-hal seperti ini bukan masalah “udah tau” atau “belom tau”. Ini bukan masalah ilmu, tapi iman, yang mana harus terus diingetin. Ngga kaya kuliah yang misalnya sekali denger udah langsung ngerti. Permasalahan dan perbincangan tentang islam bukan sekedar ‘ilmu’nya aja, tapi ‘kapan’ ngena di hati kita.

Mungkin dari sekian al-fatihah yang kita baca sendiri, baru al fatihah yang ke 199 baru kita bisa nangis. Mungkin udah denger ceramah yang sama 5 kali, tapi baru dikali ke-5 kita bisa tersentuh. Betul gak?

Materinya mengenai hidup mulia dengan Al-Quran, ditulis dengan bahasa dan redaksiku sendiri. Tidak semua, hanya yang sekarang ada diingatanku saja.

Mukjizat terbesar diantara semua nabi dan rasul adalah; Al-Quran. Semua apapun yang berhubungan dengannya, menjadi istimewa. Nabi yang dikaruniai mukjizat Quran; nabi Muhammad, beliau  menjadi pemimpin dari semua nabi dan rasul kelak. Malaikat yang membawanya; malaikat Jibril, jadi malaikat yang istimewa. Kota diturunkannya Quran adalah Makkah; terkenal akan kota yang sangat bodoh dan terbelakang (jahiliyah), tapi setelah turunnya Qur’an, jadi kota yang istimewa bahkan hingga hari ini.

Kabar baiknya, siapapun orang yang dekat dengan Qur’an, maka otomatis akan istimewa juga.

Well, hidup kadang ‘sesimpel’ itu. Kalo hidupmu kerasa messed up banget, coba mulai dekat dengan Qur’an biar ‘mukjizat’nya nular.

Miris banget kadang kita bisa liat banyak pendapat orang (muslim) yang menyangsikan Quran. Dibilang dari abad ke-7 sehingga gak relevan. Padahal, Quran diciptakan sangat universal dan akan berlaku hingga hari kiamat. Segala perkara sepanjang waktu tertulis di Quran. Mulai dari tentang kehamilan, lengkap dijelaskan proses perkembangan janin diperut. Lalu setelah lahir, ada aturan disapih sampe 2 tahun. Ketika si anak beranjak besar, ada petunjuk tentang menuntut ilmu. Ada tentang bekerja, ada tentang menikah, perceraian, hingga warisan.

Quran adalah ‘potensi pahala’ yang luar biasa besar dan mudah. Satu huruf aja kebaikannya ada 10. Baca doang. Belum kalau kita berusaha memahami dan menghafalkan. Kalau kata beliau, kalo kita ngerasa dosa, langsung segera tutupi dengan baca Quran supaya si timbangan kebaikan langsung bertambah cepat (contoh).

Quran adalah petunjuk hidup manusia. Sesuatu kalau bekerja sesuai dengan petunjuknya akan berfungsi dengan maksimal, begitupun manusia. Maka sepatutnya Quran bukan cuma sekedar dibaca arabnya doang barijeng kita ga ngerti bahasa arab, tapi pahami dengan bahasa kita dan bayangkan bagaimana hubungannya dengan keseharian kita, lalu amalkan. Karunia terbesar yang Allah beri pada seseorang adalah: Al-Quran di hatinya. Ketika Quran sudah diamalkan dan menjadi jati diri seseorang.

Ketika kita pengen ngobrol sama Allah, maka caranya adalah dengan berdoa. Tapi kalau kita mau denger apa yang Allah bilang, maka bukalah Al-Quran.

Dari sekian banyak distraksi didunia ini; hp, film, musik, kesibukan sehari-hari, cobalah jadikan Quran prioritas utama kita yang bukan dibuka pas senggang, tapi sedari awal  harus selalu meluangkan waktu. Cara mendekati Quran ada 3: membaca, memahami, dan menghafal. Menurutku sih, jangan baca doang, atleast baca juga terjemahannya biar kita tau Allah maunya kita kaya apa sih, hidup kaya gimana sih yang disukai Allah, gimana sih cara biar hidup kita dirahmati dan dibantuin sama Allah.

Cobalah juga untuk mulai menghafal. Bukan langsung semua, tapi coba dengan hal yang relate dengan kehidupan kita. Contohnya lagi belajar, coba hapalin tentang menuntut ilmu. Misalnya lagi menantikan anak, coba hapalin ayat tentang nabi zakaria yang berdoa dan dikabulkan Allah. Ayat-ayat pilihan aja, tapi ngena ke kehidupan kita. Nggak yang ngasal hafal cuma untuk pencapaian dan kebanggaan semata.

Kalau ngerasa hidup kita salah dan jauh, ga ngerti harus ngapain, coba deketin Al-Quran. Allah bakal bantu dan ngasih petunjuk supaya hidup kita ‘bener’ dan diiringi berbagai keajaiban-keajaiban dari-Nya.

Stop pretending

Berawal dari buku danish way of parenting, diperkuat dengan kenyataan pahit dalam hidup (halah) serta kemaren juga nonton nktchi, membuat aku semakin yakin untuk menerapkan hidup yang apa adanya dan jangan menutupi perasaan.

When its not okay, then its not okay.

Ga bisa ketika ada masalah lalu kita bilang gapapa padahal mah ini hati sakit banget. Ketika ada yang mengganjal, aku suka mengartikulasikan itu sendiri meski aku bisa membuat diriku sendiri sakit hati karena betapa aku suka kecewa sama personalitiku yang kadang ga manusiawi

80 persen aku cuman merasa sakit doang tapi diluar akan selalu bersugesti “its okay, gapapa”. Sebulan kemudian ambyar. Sebulan kemudian insom berhari-hari.

Sekarang, kalau ada yang mengganjal, lebih baik coba pahami kenapa. Mau nangis ya nangis sampe abis. Pun ketika kecewa sama seseorang, ini aku ga pernah nerapin sih teori doang. Tapi entah kenapa, aku selalu jadi orang ketiga yang ‘mencoba’ mempersatukan dua orang yang lagi konflik. Ga dikantor ga dirumah, aku mendengar dari dua pihak dan berusaha menyatukan, eh ternyata susah bener.

Kalau orangnya bukan kelurga ga akan masalah, ketika ada konflik bisa langsung jauh aja jangan banyak komunikasi. Tapi ketika terjadi dalam keluarga, semakin pretending to be okay, malah makin parah dan 95 persen yakin pasti meledak disuatu hari.

Love languge setiap orang beda. Kasarnya liat di nktchi. Si ayah sayang sama anaknya tapi ‘caranya’ ga bisa diterima anak. Ini hal yang umum terjadi di setiap keluarga, ya gak. Apalagi ketika si anak udah mulai dewasa dan mulai jadi stranger buat orang tuanya. Mau disayang, eh anaknya ga suka dikekang.

Aku ga tumbuh di lingkungan yang biasa mengagungkan dan menyatakan perasaan. Sehingga jadi gampang ngerasa cringe kalau ada orang yang show their love secara berlebihan. Ewh. Aku juga ngerasa aneh kalo ada keluarga yang saling bilang i love you. Tapi jadinya, sekali digituin malah pengen nangis, baper dan kangen. Apalagi kalo misal di bandara atau stasiun dan ayah udah nyium dan meluk, hiks, jleb banget.

say love you when you can

Sederhananya banyak orang di instagram kalo adik/kakanya ulang tahun/graduation mereka saling bilang love you lah, atau apa. Aku ga bisa. Caraku ngungkapin how i love them justru dengan suka menghina gitu. Tapi mereka juga gitu dan ga sakit hati. Misalnya kemaren nadya nginep, ya aku seneng karena ada temen curhat tiap malem. Tapi di stori aku malah bilang: makasih dah ngerepotin.

That’s our love language. Dan aku ngerasa gapapa sih karena kita ngerti bahwa kita saling care. Ketika aku sedih mereka ada, meski ngga yang meluk dan sok baik, tapi semua nasehat selalu jleb dan bener. Kalau ke ayah mama, kadang aku pengen bisa kaya orang lain yang ngomong love you, karena itulah yang emang pengen aku bilang. Aku ga ngerti gimana caranya care. Tapi nanti kalo punya anak sih aku bercita-cita mau menghamburkan semua perkataan validasi bahwa i love you and i care about you alot. With hugs and kisses.

kesimpulannya? ngga ada kesimpulan

Flipping the Switch

Sesuai tulisan di bukunya, flipping the switch ini tentang menggapai kesuksesan di dunia kerja maupun keseharian. Iya sih klise banget. Tapi sebelum beli bukunya aku searching dulu apakah worth atau nggak. Ternyata reviewnya bagus, akhirnya aku beli. Dan ternyata emang bagus!

Buku ini tentang gimana cara mengubah pikiran kita biar hidup kita agak berguna dan ga ngerasa salah mulu, atau kasarnya sih ya biar have a better life lah. Terdapat lima point yang akan aku coba jelasin pake bahasa sendiri dan pengalaman sendiri, pokonya suka-suka aku lah ya

Learning

Kita harus punya jiwa pembelajar. Ganti setiap pertanyaan negatif yang muncul dengan pertanyaan yang membangun dan membuat kita gerak dan mikir. Contoh ada suatu masalah. Kadang dipikiran tuh munculnya gini: siapa sih yang bikin jadi kaya gini? Kenapa sih dia ga bisa tanggung jawab? daan seterusnya. Pertanyaan kaya gitu malah bikin pikiran kita jadi nge block dan membuat kita pasif.

Coba ganti jadi: dengan adanya masalah ini, aku harus ngapain? aku bisa gimana? ubah fokus dari orang lain jadi kembali ke kita. Apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi situasi kaya gini.

Ada 5 hal yang menjadi block kita dalam belajar/learning ini

  1. Exception mentality. Yaitu ngerasa setiap nasehat tu belongs to someone, not you. Misal abis baca buku ini, lalu dalam pikiranku terbesit: wah si A harus baca banget nih cocok buat dia. Eh padahal, plis diri sendiri aja blm bener, malah nyuruh orang. Gitu kira-kira.
  2. Expectation. Ngga usah banyak ngarep akan suatu situasi, jangan mikirin orang lain atau situasi yang diluar kendali kita bakal bagus dan bikin kita hepi. Jangan. Tapi ubah mindset jadi: How can I gain the most from today? Yang bikin kita bahagia adalah diri sendiri.
  3. Entitlement thinking. Yaitu kita mikir bahwa “we deserve something”. Contoh dikantor, selalu nuntut dan nyalahin kenapa sih kita ga dapet pelatihan/kesempatan-kesempatan lain? Stop nuntut tapi coba kenapa ga kita yang gerak dan belajar sendiri apa yang kita butuhin dengan resource yang kita punya.
  4. Experience trap. Misal kita punya pengalaman di masa lalu yang bikin kita sekarang jadi ngga gerak lagi karena dulu saat melakukan itu kita gagal. Semacam, ngga mau nyoba lagi sesuatu. Ubah pola pikirnya jadi: How can I enhance my effectiveness or what can i do to acquire new skills?
  5. Exclusion. Yaitu saat kita ga bisa mendengar orang lain yang kita anggep “ga level” atau “kamu-ga-akan-ngerti-aku”. Misal diriku sendiri ketika ada orang ngomenin/kritik. Bukannya diterima, aku malah ga dengerin karena ngerasa: kamu ga pernah ngerasain rasanya jadi aku. Gitu. Coba mulai tanya kediri sendiri: how can i truly listen and applying what this person has to say?

Learning equals change, alias jangan sekedar tau doang tapi ga dilaksanakan, seperti itu.

Ownership

Kita coba untuk take responsibility atas apa yang terjadi. Ini susah juga dipikir-pikir. Contohnya kamu pergi sekeluarga keluar rumah, eh pas pulang sadar rumah belom dikunci. Yang biasa dilakukan: nyari siapa yag terakhir keluar dan siapa yang harusnya ngunci. Udah gitu nyalahin dia dulu, baru ngecek rumah aman apa ngga. Ya gak sih? Coba ganti pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan orang lain dengan:

how can i solve the problem? what can i do to contribute? how can i get rid blame of my life?

Meskipun banyak pertanyaan : how can i contribute? tapi jangan juga kita terlalu berlebihan sampe sampe kerjaan orang malah kita kerjain, atau merasa bersalah ketika kita gak salah. Ya, smart aja lah. ((Hehe, aku mah ga smart :'( ))

Creativity

Pertama, coba maksimalin semua yang kita punya dan jangan kebanyakan nuntut pengen ini itu. Ini akan bikin kita kreatif dan tetep produktif meski sebenernya dengan adanya suatu tools kita bisa ngerjain lebih cepat/lebih baik. Alias coba bertanya gini: what can I do to succeed with the tools and resources i already have?

Service

Lakukan untuk orang lain hal yang sebenernya ga perlu kita lakukan, tapi itu bakal membantu dia. Semisal kita ga dapet reward secara langsung, sebagai muslim aku percaya kalo Allah itu pasti adil dan pasti dibales di akhirat. Selain itu, kita akan menyentuh orang itu sehingga orang tersebut akan respect dan menyukai kita tulus.

Kalo kata nasehat orang pas pertama kerja sih, jangan mikirin duit, udah kerjain apa yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Nanti semua kebaikan dan keberuntungan bakal ngikutin.

Selain itu, coba untuk kasih positive validation ke sesama. Ini beda dengan pujian. Contohnya sewaktu dulu aku mau presentasi. Rasanya aku paling bodoh banget diantara semua orang. Kalo boleh minta pengen ilang dulu dari dunia saking mindernya. Tapi ketika seorang temen kantor bilang: shofia pasti bisa, aku tau kamu pinter, yang kaya gini pasti bisa dilewatin. Bukan, aku bukan seneng dipuji, tapi dengan dia bilang gitu akhirnya aku jadi percaya sama diri sendiri: oke berarti aku bisa. Perkataan receh gitu bisa mengescalate percaya diri kita ketika lagi bener-bener down. Bahasa dibukunya gini: I needed someone to transfer his belief in me to me

Trust

Ubah dari pertanyaan-pertanyaan ini:

why dont u talk to me more? when will u start listening me? 

menjadi

how can i truly understand you? what can i do to know them better? how can i build their confidence in me?

Kasarnya gini, orang diseluruh dunia yang aku temui tuh sering banget komplain: kenapa ga ada yang ngertiin aku? Heeeeh pengen banget ngomong, kalo pengen dingertiin, coba kamu yang ngertiin orang lain dulu. Itu step paling gampang biar orang juga ngertiin kita. Daripada mengharap orang lain untuk melakukan sesuatu ke kita, lakukanlah apa yang kita bisa.

Trust Builder:

Agar supaya dipercaya, ada beberapa step:

  1. Tell the truth. Ya jujur aja jangan dibuat-buat karena keliatan tau gak si kalo orang lagi boong tuh. Asli. Selain itu, jangan sugarcoating, atau gimana ya bahasanya, banyak basa basi ga to the point. Contoh seorang anak rankingnya jelek, siibunya malah bilang, ‘gpp itu guru kamu yang ga bener’ ketika harusnya anaknya lah yang emang ga bener belajarnya.
  2. Speak to the right person. Kalau ada masalah sama si B, ya jangan cerita ke si C. Langsung beresin ke si B. Alias stop gibah.
  3. Coach alias coba bantu orang untuk mencapai sesuatu.
  4. Transfer authority. Kasarnya mungkin mempercayakan sesuatu ke orang lain sehingga dia ngerasa dipercaya.
  5. Support people’s dream
  6. Show you care

Kalo boleh ngasih kesimpulan yang aku dapet dari baca buku ini adalah: berhenti menuntut dan mengharapkan orang lain, terserah orang mau ngapain juga, tapi kita harus tetep gerak dan memperbaiki apa yang kita bisa lakukan. Selain untuk memperbaiki keadaan, ini juga bagus banget buat pengembangan diri kita dan pola pikir kita agar nggak negatif dan ngga membuang energi dengan banyak ngeluh dan nyalahin orang.

22.16, dan tetiba watsap grup kantor nyala malah nanyain kerjaan. Pengennya kesel tapi yaudah mari terapkan isi buku ini dan mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa dilakukan saat menghadapi situasi seperti ini?

tentu saja tidur.