Love letter

Banyak kejadian minggu ini yang aku rasa cukup ‘menyenggol’ umat islam. Pertama kejadian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, juga peresmian Kedubes US di Jerussalem. Keduanya terlalu menyita hati dan membuat jadi banyak berfikir (dan browsing)

Disatu sisi, aku takut bahwa aku tidak seteguh yang aku bayangkan. Urusan keimanan dan hati hanya Allah yang mengatur, dan ketika iman masih ada, aku hanya ingin berdoa sekuat mungkin agar Allah tetap menunjukiku dan keluarga dan teman2 untuk berada di jalan yang benar (menurutNya) hingga akhir hayat. Fitnah seperti ini dirasa menimbulkan islamophobia mendalam bahkan bagi kalangan umat muslim sendiri. Bagaimanapun juga, meski memang islam tidak mengajarkan hal2 anarkis, tapi para pelaku melakukan dengan motif agama. Jadi ini sebuah skakmat, mau dibilang bukan islam, tapi rupanya pelaku terlihat sangat taat. Semoga orang awam bisa membedakan islam yang beneran islam dan islam yang hanya jadi ‘wajah’ saja tapi isinya bukan.

Disisi lain, palestina sedang berdarah (lagi dan lagi) untuk mempertahankan masjidil Aqsha. Masyaa Allah. Kita sudah dibelain oleh mereka, tidak etis rasanya mereka sudah tumpah darah namun kita disini haha hihi aja. Al Aqsha bukan masjid biasa, hei. Dan Palestina bukan sekadar urusan nyawa (haduh nyawa mah ga ada yg sekedar sih), namun juga harga diri islam di seluruh dunia.

Ditengah kegalauan, aku merasa sedang GR karena tetiba membaca ini,

Ya Allah. Engkau Maha Suci meskipun mereka berusaha sekuat tenaga merusak agamaMu. Hanya padaNya kita berserah, makar Allah tentu jauh lebih baik dari makar manusia. Siapapun dalangnya. Meski ia selicik iblis dan sepenghasut dajjal.