Not Moving

Banyak sekali hal yang bisa terjadi dalam waktu dekat, yang bisa merubah semua muanya. Bisa sesuai kemauan, bisa tidak. Kalau bisa memilih, aku masih ingin menemani adik belajar tiap malam dan membantu ibu memasak dikala sore. Tapi apapun yang terjadi sudah cukup percayakan pada Penulis skenario terbaik.

Please follow and like us:
0

Love letter

Banyak kejadian minggu ini yang aku rasa cukup ‘menyenggol’ umat islam. Pertama kejadian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, juga peresmian Kedubes US di Jerussalem. Keduanya terlalu menyita hati dan membuat jadi banyak berfikir (dan browsing)

Disatu sisi, aku takut bahwa aku tidak seteguh yang aku bayangkan. Urusan keimanan dan hati hanya Allah yang mengatur, dan ketika iman masih ada, aku hanya ingin berdoa sekuat mungkin agar Allah tetap menunjukiku dan keluarga dan teman2 untuk berada di jalan yang benar (menurutNya) hingga akhir hayat. Fitnah seperti ini dirasa menimbulkan islamophobia mendalam bahkan bagi kalangan umat muslim sendiri. Bagaimanapun juga, meski memang islam tidak mengajarkan hal2 anarkis, tapi para pelaku melakukan dengan motif agama. Jadi ini sebuah skakmat, mau dibilang bukan islam, tapi rupanya pelaku terlihat sangat taat. Semoga orang awam bisa membedakan islam yang beneran islam dan islam yang hanya jadi ‘wajah’ saja tapi isinya bukan.

Disisi lain, palestina sedang berdarah (lagi dan lagi) untuk mempertahankan masjidil Aqsha. Masyaa Allah. Kita sudah dibelain oleh mereka, tidak etis rasanya mereka sudah tumpah darah namun kita disini haha hihi aja. Al Aqsha bukan masjid biasa, hei. Dan Palestina bukan sekadar urusan nyawa (haduh nyawa mah ga ada yg sekedar sih), namun juga harga diri islam di seluruh dunia.

Ditengah kegalauan, aku merasa sedang GR karena tetiba membaca ini,

Ya Allah. Engkau Maha Suci meskipun mereka berusaha sekuat tenaga merusak agamaMu. Hanya padaNya kita berserah, makar Allah tentu jauh lebih baik dari makar manusia. Siapapun dalangnya. Meski ia selicik iblis dan sepenghasut dajjal.

Please follow and like us:
0

Hasil Lecture Ust Nouman Ali Khan di Masjid Istiqlal, Jakarta – Reconnect Qur’an

Ust. Nouman Ali Khan yang tersohor selain karena sebagai CEO bayyinah.tv juga karena lecturenya yang menyentuh banyak khalayak di berbagai negara, akhirnya datang juga ke Indonesia, kemarin. Berikut aku tuliskan apa-apa yang sudah aku tangkap dengan bahasaku sendiri dan redaksi sendiri. Kalau mau melengkapi, boleh dikolom komen, begitupun kalau ada saran kritik.

  • Ramadhan merupakan bulan mulia salah satunya karena dibulan tersebutlah turunnya Al-Quran.
  • Ibrahim A.S merupakan nabi yang doanya paling banyak diabadikan dalam Qur’an. Beliau pernah mendoakan anak cucu nya agar diberi petunjuk. Dan doa tersebut terkabul dengan turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad yang merupakan anak cucunya dari Nabi Ismail A.S.
  • Boleh jadi kita sudah mendengar Quran ratusan hingga ribuan kali diulang-ulang. Apakah karena kita sudah tahu lantas ketika mendengarnya lagi akan useless? Nggak. Contoh: seorang anak kabur dan berantem dengan ibunya. Ketika bertemu temannya, si teman bilang: heeeey what’s wrong with you? She’s your mom. she’s your mom, maaan! (kebayang kan, ust Nouman Ali dg intonasi khas nya bercerita begitu). Lalu anak itu sadar dan kembali ke ibunya. Apakah “she’s your mom” merupakan info baru bagi anak itu??? Apakah dia menjawab dengan: “Woow? Really? Is she my mom?” seolah itu info baru. Kan enggak. Begitupun dengan kita. Kadang perlu peringatan berulang kali hingga suatu ilmu masuk kedalam tubuh dan hati kita.
  • Qur’an diturunkan sebagai petunjuk. Kita membutuhkan petunjuk lebih sering dan lebih urgent daripada makan dan minum.
  • Petunjuk membuat seseorang menjadi tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Tetapi butuh keinginan yang kuat dan kemampuan memutuskan yang baik (decision power) untuk benar-benar melaksanakan petunjuk.
  • Contoh: you know you should stop texting her but why you didn’t do that???? *contoh dari ustad Nouman Ali Khannya sendiri, bukan curhat
  • Menyatukan Al-Qur’an dengan lisan dan pendengaran kita itu mudah (hayo padahal ngaji rutin aja susah). Tapi yang menjadi problem semua orang adalah bagaimana menyatukan Al-Qur’an dengan hati kita. Hingga terbawa dalam setiap aktivitas, kegiatan, dan pola pikir kita.
  • Saran: pahami Al-Qur’an sedikit-sedikit. Baca terjemah dan tafsirnya berulang-ulang. Tergantung cara belajar masing-masing. Kalau suka baca ya dengan baca, kalau suka mendengar ya cari videonya atau rekamannya.
  • Kita akan mendengar nasehat dari seseorang yang kita “hormati”. Al-Qur’an merupakan sekumpulan nasehat dari Allah SWT. Ketika kita ga mendengar dan mengabaikannya, maka secara tidak langsung kita anggap Allah SWT apa?
  • Hubungan interpersonal itu harus dua arah. Ketika Allah SWT “menghubungi” kita dengan menurunkan perkataanNya dalam Al-Qur’an, maka kita juga harus “membalas panggilannNya” dengan doa. Berdoalah dengan baik dan prasangka yang baik terhadap Allah SWT.
  • Contoh: ketika firaun dan tukang sihir diceritakan berbuat jahat. Jangan berdoa: “ya Allah jangan jadikan aku penyihir” tapi doalah seperti Ibrahim AS: “Ya Allah when I see the truth, don’t make me turn away like Firaun turn away”
  • Connecting Qur’an with our heart need high price.
  • Meski kamu orang sepinter apapun dalam ilmu agama, atau bahkan 0 banget, tetap ada jarak antara Quran dan hati masing-masing. Itu PR semua orang untuk memperkecil jarak Quran dengan hati hingga nantinya Qur’an bisa senantiasa ada di hati. Bukan persoalan mudah dan gampang. Sangat perlu bayaran yang mahal. Sangat mahal. Ga bisa didapat begitu saja jika kita leyeh leyeh dan berharap hidayah datang tiba-tiba.
  • Doa nabi Ibrahim yang lain, untuk keluarganya: Ya Allah, don’t humiliate in Judgment Day. Karena ketika itu bisa saja seseorang di keluarga/lingkungan kita dihukum oleh Allah dan semua umat manusia melihatnya. Contoh ayahnya Nabi Ibrahim. Sebagai anak, apakah ga merasa humiliate ketika ayahnya didepan semua umat manusia dipermalukan karena dosanya?
  • Ketika didunia kita sibuk mikirin orang dan selalu berharap orang lain mendapat balasan setimpal dari apa yang dia kerjakan. Pas di akhirat ga akan terjadi, kita udah sibuk dengan diri sendiri.
Please follow and like us:
0