Jika lemah

Siapa lagikah yang mampu menenangkan hati kecuali Pemiliknya

22.19 ini, sudah di bandung. Mendengarkan playlist musik adik yang dulunya playlistku. Padahal sudah setahun aku tidak dengar musik secara sengaja.

Akibatnya, setiap mendengar dengan ga sengaja, mood malah seperti sedang dipermainkan.

Aku sedang merasa lemah dan jauh. Jika dulu aku lemah, aku berusaha mendekati Pemilik hati. Sehingga aku tak peduli kalau aku hanya aku. Bahwa teman lama selalu jadi pelarian karena siapa lagi. Bahwa pulang adalah primer karena dimana lagi bisa menjadi aku.

Aku tidak mau menjauh lagi. Aku belum sekuat itu untuk mengendalikan semua yang bergerak dinamis dalam kepala dan hati.

Aku ingin kembali merangkak padaNya, aga semua yang tidak menenangkan, digenggam dan dikendalikanNya.

Please follow and like us:
0

Nanti

Aku baru sadar setelah dua minggu lalu bertemu seorang dosen waktu kuliah di sebuah forum, yang juga kawan ayahku, mengenai ini:

“kamu ini, kuliah disuruh ayah. kerja juga disuruh ayah. jangan-jangan jodohnya lagi disiapin loh?!?!”, katanya sambil tertawa bercanda. Tapi jleb juga. Disangka aku ini anak yang terkekang. Atau disangka juga ayah adalah seorang ayah yang pengatur. Sesungguhnya kenyataannya jauh dari itu semua. Tapi sabar sodara, aku paham betul ayah ga lagi nyiapin jodoh kok, jadi bukan kalimat terakhir itu yang bikin jleb.

Dipikir-pikir, memang jalan takdirku sangat sejalan dengan keinginan kedua orang tua, khususnya ayah.

Sewaktu SMA, aku daftar jurusan oseanografi karena nasehat ayah. “masuk itu aja, ada temen ayah” dan berbagai alasan lainnya. Aku iya-iya aja karena dalem hati bilang, fisika remed 6 kali masa iya masuk itb? Udah pasrah daftar swasta,

Eh masuk dong. tapi masih FITB, belum jurusan.

Dari semua jalan hidup, aku selalu milih sendiri dan bukan dipilihin orang tua. Paling ayah hanya bilang, “kata ayah sih daftar oseanografi aja karena abc, tapi kalau suka geodesi gapapa”

Kedua perihal pekerjaan. Inget betul, sewaktu aku tingkat dua dan lagi super ga suka sama jurusan dan lingkungan, ayah berkata: teh nanti kerjanya bisa loh di bppt. Sementara aku hanya iya iya aja padahal denger bppt aja belom pernah.

Gaiz, ternyata sekarang beneranlah aku berada di bppt. Kalo dithrowback-in lagi, ini semua kok selalu sama dengan celetukan ayah yang selalu aku iyahin tapi ga serius. Tahun kemarin aku daftarpun sebenernya karena gatau aja mau daftar ke k/l mana, lalu teringat obrolan tempo dulu sama ayah yang nyuruh ke bppt. Ternyata deputiku sekarangpun temen ayah juga.

Entahlah, sepertinya aku bukan si anak yang punya keinginan super gigih dalam hal karir. Sebenarnya cita-cita tertinggi mah ya jadi ibu yang dirumah aja (tapi dg catatan udah ada pegangan dan ada yang bisa dikerjain juga). Tapi selama masih bisa melanglang buana, ya hayu kita bersungguh-sungguh! Ketika kesempatan beasiswaku yang 875263748777832478 kali itu hilang (krn gagal), sekarang Allah menggantikan dengan tempat kerja yang lingkungannya sangat mendukung buat kuliah lagi.

Begitulah Allah menyiapkan takdir. Dulu banyak hal yang aku sampe pusing mikir: kenapa bukan A, kenapa malah B, apa bagusnya? dan seterusnya tatkala ada hal yang ga sesuai harapan. Tapi semua maksud dan perkataan “OH” akan takdirNya akan terlihat nanti, mungkin tahun nanti, atau nantinya lagi.

Please follow and like us:
0

Cara Membuat NPWP Mudah Meski Domisili Tidak Sesuai KTP

NPWP online adalah kemudahan yang hakiki. Asal semua lengkap, beberapa hari kartu sudah ditangan. Namun ada prahara pelik bagi saya, yang sudah daftar 3x tapi selalu ditolak.

Karna apa? Karena alamat domisili tidak sesuai KTP. Kata orang, “udah samain aja!”. Ya kalau keluarga masih tinggal disitu sih gapapa. Tapi kalau rumahnya udah dijual? Repot guys. *nantinya aku tahu bahwa ini ga repot* mau ga mau aku harus bikin surat domisili. Tapi hari ini npwp udah ditangan tanpa pake surat itu;)

Akhirnya aku mencoba 2 opsi. Satu, minta diurusin surat domisili di rumah baru yang di Bandung. Dua, aku urus sendiri ke kelurahan di kosan dengan cara minta surat keterangan domisili. Tapi tidak disarankan kecuali kalau rt rw nya memang bersedia.

Opsi satu cukup repot, karena semua orang rumah pada full day diluar. Akhirnya aku menjalankan opsi dua yaitu membuat surat keterangan domisili di kosan.

Ternyata, RT RW disini ga mau bikinin surat domisili karena sering disalah gunakan. Juga katanya ada perintah dari disdukcapil untuk ga ngeluarin surat domisili. Hmmmm. Kok bisa ya terintegrasi dengan ga saling mendukung gini. Tapi positifnya, aku jadi tau gosip-gosip tetangga (abaikan)

Akhirnya aku mikir keras. Sementara deadline pengumpulan NPWP sudah mendekat. Akupun menelpon KPP di wilayah yang sesuai KTP yaitu di Bandung.

“Mbak, apa npwp bisa saya ambil sendiri ke kantor pajaknya? Soalnya saya diluar kota”

“Bisa, tapi isi onlinenya harus samakan alamat dengan alamat KTP. Mau ambil di KPP Serpong juga bisa, tapi sebulan lagi.”

Bagaikan air didaun talas, jawaban ini bikin aku bahagia ga usah pontang panting bikin surat dari bapak kosan dan seterusnya yang diminta pak rt.

……….ide cemerlang untuk nanya perihal alamat ini tumbuh di waktu yang mepet. Tau gitu dari kemarin nanya ke kantor pajaknya.

Intinya adalah apapun yang terjadi dengan domisili dan permasalahan alamat, tetaplah isi alamat domisili sesuai dengan alamat KTP. Setelah itu, telpon kantor pajak dan minta jangan dikirim. Atau:

1. Npwp bisa dicetak ketika nanti kamu sempet ke domisili (karena kalau hanya butuh nomornya, akan diberikan di email). Nyetak npwp cuman 1 menit kurang, hanya sebut nama dan ktp, kartu udah di tangan. Ntap kan.

2. Bisa diambil di tempatmu tinggal, tapi dalam waktu 30 hari.

3. Bisa diambil kerabat di domisili dengan adanya surat kuasa (w sempet bikin ginian, simple dan gampang kok)

Saran : telepon aja segala masalahmu ke KKP domisili, biasanya mereka welcome, tapo tergantung daerahnya juga sih ya.

Please follow and like us:
0