Moriarty

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan

Seorang manusia telah lama dipuja dihadapanku
Ilmu yang naik dan sikap yang baik
dan tak lupa amalan tujuh turunan, dimilikinya
Aku pernah percaya

Hal paling membuat kemelut,
Saat teori-teori menjadi kata tapi tak pernah berwujud
Kalau kau bilang jangan lihat penganut,
Lalu kami si awam harus lihat pada siapa?
Bisa bisa aku tercemar oleh ide media

Kau yang pintar, oh dear
Rupanya merebut harta paling berharga
Yang dimiliki sebuah keluarga

Muak sudah mendengar nasihat
Dari manusia yang dipuja
Tapi aku punya sebuah rahasia
Oh dear, yang mana kau bisa seketika jatuh
Dari duniamu yang begitu tingginya

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan

Aku ingin menghentikan semuanya dengan kasar
Oh dear, yang merebut jiwa hingga rasa
Semoga kau disayang Allah 
Lalu kami bisa menyudahi segala resah

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan
Duniaku akan terbalik kalau aku
Mengeluarkan segala kalut dalam kalbu
Tentangmu dan yang sangat-tidak-mungkin ada dalam kamu

Oh dear, aku bahkan tidak bisa melawan dan berdiri
Aku terjebak dalam mualku sendiri

Please follow and like us:
0

Unforgivable

Kalau mau agak lebay, boleh dibilang manusia dan dosa itu seperti dua sisi mata uang yang susah buat dilepas. Tapi kita tahu bahwa Allah Maha Baik dan mengampuni segimana besarnya dosa kita asalkan kita bertaubat dan ga mengulanginya lagi.Sebbbbesarrrr2nya dosa akan Allah ampuni.

Yah, jadi, minder karena dosa dan perasaan ngerasa ‘ga pantes buat deket sama Allah’ itu adalah hal yang sia-sia banget karena, atulah, “tinggal” menyesal, bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Timbangan dosa jadi nol.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Tapi ada suatu dosa yang lumayan…………

Lumayan sedikit rumit dan ngeri juga. Yakni dosa atau berbuat salah kepada sesama manusia. Makanya aneh dan ketauan asbun banget orang yang ngomong bahwa antara Islam dan relasi antar manusia itu kontradiktif. Ya sering dengerlah bahwa “lebih baik ga beragama daripada beragama tapi jadi a**h**e.” Entahlah si yang bikin kalimat itu memahami agamanya seperti apa, tapi yang jelas kalau di beneran Islam, hubungan sesama mausia ini penting. Dan justru ini masalah besar.

Kalau apa jadi masalah? Kalau kita menyakiti orang lain (misal lewat harta, perasaan, perbuatan, prasangka, ghibah, dst) dan kita ingin taubat. Karena taubatnya bahkan ga segampang tobat yang dosanya ke Allah (contoh: ninggalin sholat). Sebelum Allah menerima taubat karena kesalahan kita ke sesama manusia, kita harus minta maaf dulu dan dimaafkan oleh orang yang kita zolimi tersebut.

Welllll kadang mau ngakunya aja takut banget, kaya, “eh aku sering loh gibahin kamu, maafin yaaa” atau “aku berprasangka kalau kamu orangnya malesin, maaf yaaa” atau, “maaf yaaaa wahai seluruh manusia Indonesia, aku ngambil uang e ktp kamu sehingga kamu jadi susah ngurus lain2nya karena e ktp kamu ga kecetak2” ok. curhat.

Ya, masalah menghina sesama aja entah bakal diampuni apa engga, apalagi yang menyangkut kemaslahatan banyak manusia. Boong dan salah kalau banyak anggapan bilang Islam itu cuman peduli sama ibadah ritual dan keagamaannya doang, tapi sesungguhnya hubungan hablumminannass nya juga ga kalah penting. Maka sesepele utang sama sahabat karib yang saking karibnya suka pautang2, mungkin lebih baik bikin kejelasan kalau sudah sama2 ikhlas. Maka sesepele “jaga ucapan” juga bener harus dilakukan.

Wallahualam bis-shawab. Ditulis oleh yang kesalahan ke manusianya juga banyak banget 🙁

Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari Kiamat datang membawa amalan shalatnya, puasanya, dan zakatnya. Pada saat yang sama, ia juga membawa dosa mencaci si fulan, membunuh si fulan, memakan harta si fulan. Pahala kebaikan-kebaikannya lalu diambil untuk diberikan kepada si fulan, si fulan, dan si fulan. Apabila kebaikannya habis sebelum dosanya tertebus, akan diambilkan dari kesalahan orang-orang yang terzalimi itu untuk ditimpakan kepadanya lalu ia dimasukkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).

“Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).

 

bvcs.jpg

Please follow and like us:
0

Self Esteem

“Don’t talk about yourself, you aren’t as interesting as you think” (lupa)

Mudah melihat “peringkat” kehidupan seseorang, yaitu cukup lihat saja medsosnya. Berapa followers dan likes di instagramnya, gimana high class-nya semua postingan pathnya, seberapa sering ke cafe mahal, seberapa banyak paspornya di cap, dan seterusnya. Fasilitas-fasilitas ini mudah membuat orang jadi mencari posisi dimata manusia. Mencari pengakuan dan keeksisan. Tanpa disadari.

Sebagai manusia biasa yang bisa salah dan berdosa, aku sadar banget hal-hal tersebut harus aku hindari. Karena bisa mengaburkan niat dalam melakukan kegiatan. Apalagi sekarang udah ada igstories, udah deh godaan banget.

Kalau diibaratkan –semacam masalah klasik sih– kaya pas magrib posting makanan lalu ngucap selamat berbuka. Asa pengen diciein karena shaum gitu. Tapi disisi lain, takut ga sih pahalanya jadi nol? Atau makan dan tempat mahal, kemungkinan ingin membuat prasangka bahwa ia orang sangat berada. Atau selfie, barangkali terselubung niat ingin ada puji-pujian merambah kolom komentarnya. Tentu ga disadari, karena toh semua orang kaya gitu. Aku juga suka gitu kadang–tapi udah engga sih. Ga salah maksudnya.

Pernah aku juga baca kalau kebanyakan orang itu menganggap dirinya sendiri lebih wah dari kenyataannya. Misalkan pas ngaca, ih asa cantik lah, asa putihan lah padahal kata orang mah nambah item dan biasa aja. Atau wew w nambah ganteng nic eh padahal sebenernya engga.

Pernah waktu aku berusia 15 keatas mengalami keinginan untuk dipuji manusia. Misalnya bikin friendster dan update terus, status YM gonta ganti tiap menit, foto juga ganti mulu, terus abis aku bikin tulisan, si tulisannya itu di print banyak dan di share sambil dimintain note komentar ke setiap orang mulai dari orang rumah sampai temen sekelas, guru-guru di ruang guru, juga ke sepupu-sepupu. Rariweuh pokonya.

Entahlah aku ga bisa menjudge isi hati orang seperti apa, tapi bagi aku pribadi kesemua itu cukup bahaya. Karena selain takut mengaburkan niat, juga aku takut jadi kehilangan jati diri. Aku pernah mengalami itu, saat “worthy” nya aku, kuanggap ada ditangan manusia. Lalu Allah merubah keadaan aku, dan aku merasa jadi bahan komentar buruk orang pertama kalinya seumur hidup.

Kerasa banget hidup itu ada up down nya. Ga selamanya aku disukai sama semua orang. Keadaan itu mayan mengagetkan, namun membuat aku jadi kembali mikir, hidup ini bukan buat bikin seluruh dunia bahagia, tapi gimana bisa bernilai dimata Allah. Karena yang mengenal kita bukan manusia-manusia, tetapi Pencipta kita. Dan sebagai orang Islam tujuan hidup itu apa sih kalau bukan Ridho Allah. Toh akhirnya juga kita akan mati dan kembali.

Well keberadaan instastory dan kawan-kawan bisa banget membangkitkan keinginan ingin di likes banyak dan “dianggep” sama orang lain. Tapi sudahlah, kalau itu ternyata mengaburkan tujuan hidup, janganlah dijadikan ajang pamer diri wahai sofia.

Jadi inget kisah Uwais Al-Qorny yang tidak dikenal dibumi namun terkenal di langit. Maka apa? Maka muliakan ibu, seperti Uwais. (eh nyambung ga ya ni paragraf)

Please follow and like us:
0