Mahkota

Kalo sekarang ke kampus terus liat mahasiswa yang diklat diklat rasanya ikutan cape dan merasa kasian karena perjalanan mereka masih panjang wkwkwk…tapi tentu jaman dulu aku pernah ikutan semacem gitu tapi lupa apakah itu oskm, atau diklat terpusat, atau diklat divisi yang ingin aku tulis disini..

Saat itu kita ngelingker, terus di tanya sama si kakanya, cita-cita mau ngapain? (omg typical bgt). Semuanya menjawab secara formalitas. Tapi ada seorang temen yang jawab,

Saya abis lulus mau tahfiz dulu

Kenapa? Tanya si penanya.

Soalnya, kalau seorang anak bisa tahfiz, nanti di akhirat bisa ngasih mahkota buat kedua orang tua…..

Lalu hening,

Ya, terkadang aku merasa ambis banget ngejar dunia, (meskipun seharusnya keduanya beriringan), bahkan mikir “tahfiz” itu rasanya berattt banget. Padahal kalau masalah perkuliahan atau TA dituntasin abis sampe paper-paper udah sekardus (lebai)

Ya sih ambis itu ga salah, tapi salahnya adalah kalau mengabaikan untuk apa kita hidup seharusnya di dunia dan kalau niatan mengejar itu semua ga melibatkan Allah dan hanya untuk kepuasan diri.

ini tulisan sebagai pengingat diri sendiri saja karena aku merasa masih jauh dari niat baik…

20160621-041723-PM.jpg

 

Please follow and like us:
0

The way you&I write #part3

Betapa membosankannya judul ini sampai sampai ada #part3 nya segala. Tapi tak apalah ya.

Aku adalah manusia yang memfollow tips-tips menulis, tips menerbitkan buku, mengolah karakter, memilih klimaks yang greget, mendescribe lokasi dengan menarik, memunculkan konflik, dan hingga cara-cara self publishing. Tapi makin lama aku sadar, bahwa ini adalah nonsense–untuk saat ini. Karena meskipun udah puluhan tahun (berasa tua) aku simpan dan pelajari, tapi aku ga pernah menulis dengan benar. heuheuheu

Suatu hari yang cerah, aku pernah mendapat wejangan dari tere liye waktu ia mengadakan training menulis,

Saya paling bingung kalo pada nanya: gimana sih caranya nulis? Karena nulis itu ga butuh pelajaran rumit yang kita harus pahami dalam-dalam seperti kalau kita belajar pelajaran eksak, seperti pelajaran kuliah, atau lain-lainnya.

Kalau mau nulis, jangan bertanya! Tapi nulis!
Karena kunci bisa nulis itu satu, yaitu nulis!

Aku hanya bisa berkata dalam hati, iyaaaajugaaayaaa. Meskipun kita harus sadar diri juga, bahwa ga mungkin sekalinya nulis langsung bisa kayak J.K Rowling.

Wel wel wel sesungguhnya hal yang menyenangkan dari menulis itu adalah kita jadi lebih mengenal diri sendiri dan mengenal isi pikiran kita. Ga jarang kalau lagi ga pararuguh lalu aku mencoba nulis, akhirnya jadi clear: oh jadi ini yang dari tadi aku cemaskan. Selain itu juga kita jadi mengenal diri sendiri (aku udh ngomong ini berapa kali ya). Selain itu, kita juga jadi mengenal diri sendiri, mengenal diri sendiri, dan diri sendiri. Mungkin aku sebut banyak karena itu dampak paling paling paling kerasa dari hasil aku nyampah-nyampah selama ini di wordpres, heu (lagi seneng dengan kata ‘heu’).

Please follow and like us:
0

Best thing I have

Sudah 2 tahun lebih menjalankan ritual mengantar Ghina pulang ke bandara, tapi ini tetap jadi momen menyesakkan. Awalnya aku kira hubungan antar kami kami bersaudara yang rempong dan banyak berantem ini biasa aja, sampai akhirnya aku ngerasa kosong tiap dadah dadah sama ena di bandara, sampai akhirnya aku ikutan sedih dan kesel tiap si iya cerita sambil nangis, sampai akhirnya aku rela ikutan maen barbie dan meluangkan banyak waktu untuk main ala anak kecil demi bikin naira seneng. Sampai akhirnya aku lebih sering menangis karena membaca doa orang tua dibandingkan nangis karena TA (apa bgt perbandingannya teh)

Sampai akhirnya juga aku sadar, sebanyak apapun kecewa atau kekurangan, itu semua ga akan ngaruh terhadap perasaan ini terhadap mereka. Karena pulang tetaplah keluarga.

Baru kali ini aku memiliki perasaan yang ga pernah padam meski badai ujan panas salju melanda. Semoga kita bisa saling menyelamatkan kelak, didunia ataupun diakhirat. Sedih ih wkwkkw

20160725-120526 AM.jpg

Please follow and like us:
0