Pengetuk Jendela Kamar

Seperti biasa, malam itu aku mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang sedang menumpuk-menumpuknya. Maklum, tingkat tiga. Tak terasa. Aku biasa belajar diatas kasur, dengan meja lipat kecil didepanku yang diatasnya ada laptop berantakan dan kotor saking aku tidak tahu lagi kapan waktu yang tepat mengurusi kerapihan hidupku karena waktuku terenggut oleh tugas-tugas takberperikemanusiaan ini.

Hari ini hari pertamaku tinggal dirumah baru. Ada yang mengetuk jendela. Aku berniat menengok tapi dengan cepat berpaling lagi. Aku ingat sesuatu. Bahwa kamarku berada di lantai dua. Seketika leherku merinding. Kubuka pintu kamar, agar tidak merasa sendirian.

Ketukan berbunyi-bunyi lagi. Lebih seperti suara kayu yang dipukul-pukul ke jendelaku. Aku berniat menengok. Tapi kuurungkan lagi. Bukankah tidak ada pohon disekitar kamarku? Atau itu adalah tetangga sebelah? Tidak mungkin. Karena tetanggaku anak kelas 2 SD yang mana mungkin sangat niat manjat-manjat rumah orang, tidak masuk akal. Lagipula terlalu jauh jaraknya untuk mencapai jendela kamarku.

Ketukan berbunyi. Terimakasihku pada tugas ini, karena kalian menjadi fokus hidupku. Dengan cepat aku mengabaikan semua hal yang terjadi dikamarku malam itu. Suara-suara itu tidak lagi aku dengar. Yang penting kelar. Kataku dalam hati dengan mata sudah tidak karu-karuan karena menahan kantuk luar biasa.

Ketukan berbunyi lagi. Terimakasih aku tidak dilahirkan sebagai orang yang seperti diceritakan film-film horor atau nightmare side ardan, yang penasaran banget dan selalu menengok kalau ada keanehan. Tidak, sama sekali tidak penasaran.

Sudah pukul 03 dini hari. Ketukan sudah tak terhitung jumlahnya. Aku tidak peduli. Akhirnya aku bisa tertidur, tugas tugas sudah aku kumpulkan via email. Baiklah, kali ini aku tidak akan mematikan lampu–sebenarnya karena sedikit takut. Sedikit.

Aku biasa tertidur menghadap ke kanan, karena kata kakakku yang sedang ko-as, kalau menghadap kiri itu tidak baik untuk kesehatan, dan kata ibu itu merupakan cara tidur setan. Aku tak kuat lagi dan segera berbaring.

Sial, aku lupa kalau menghadap kanan itu artinya aku sekarang sedang tepat melihat jendela yang masih berbunyi itu. Kali ini bunyinya memanggil namaku. Lalu,

“Akhirnya kamu tidur juga….”

Ia tidak mengetuk jendelaku lagi, tetapi sudah tepat berada di depanku, lalu gelap.

Aku terlalu mengantuk.

19:58, Bandung, SK.

Please follow and like us:
0

Yes’a; Kisah Lebih Detail Mengenai Asiyah

 

Draft 20 May, 2016

Mesir kuno dengan segala kesombongan, sihir-sihir, dan simbol-simbol uniknya selalu berhasil membuat penasaran. Piramida dan sphinx yang dibaliknya terdapat banyak korban para manusia-manusia yang selalu dicambuki, tanpa makan minum dan tanpa alas kaki, adalah kemegahan bagi Mesir. Sungai nil, yang sering mengalirkan darah-darah manusia menjadi saksi peperangan dan pembunuhan setiap bayi lelaki Bani Israil.

Ada sebuah buku tentang Asiyah, istri Fir’aun. ((Jarang-jarang kan ada yang menceritakan kisah Asiyah)). Menurut pengakuan penulis, ia menuliskan novel itu berdasarkan riset-riset. Secara umum, kisah Asiyah di novel itu memang menarik dan hebat tapi juga menyedihkan. Dari keseluruhan cerita, ada beberapa hal yang aku baru tau.

1. Ternyata, Fir’aun yang dinikahi oleh Asiyah (nama aslinya adalah Yes’a) bukanlah Fir’aun yang tenggelam di laut Merah. Tapi keduanya sama kejam.

Yes’a menikahi sahabatnya, Ra (Pareamon). Sejak mengenakan mahkota raja mesir, suaminya menjadi jauh berbeda. Semakin haus kekuasaan dan hal ini diperparah dengan penasehatnya, Haman yang kompor banget. Haman yang memberi ide agar Pareamon dinobatkan menjadi tuhan. Pareamon juga merupakan fir’aun yang membunuh bayi laki-laki bani Israil, dan sekaligus yang mengejar Musa saat ia dituduh membunuh warga asli.

Tetapi, saat Musa pergi melarikan diri dari kejaran Pareamon, Pareamon jatuh sakit dan meninggal. Lalu ia digantikan oleh pangeran. Dialah yang lebih lebih licik lagi. Dia yang membunuh mashitoh, juga nantinya ia membakar Asiyah, yang saat itu masih menjadi seorang ratu.

2. Sumber kejahatan para Firaun berasal dari kemegahan dan kesombongan.

Dikisahkan bahwa sebelum Pareamon menjadi raja, ia cukup dekat dengan Yes’a dan sepemikiran dengan Yes’a. Kekejaman dan kesombongan dimulai sejak mahkota raja mesir tersemat. Mesir dengan segala kekayaan, kemegahan, dan rakyat-rakyat lemah tapi tak pernah memberontak semakin memperkuat kesombongan fir’aun. Belum lagi penasehat-penasehat yang pandai bersilat lidah, membuat firaun semakin yakin kalau mereka adalah tuhan. Pelanjut Pareamon, yakni firaun yang tenggelam di laut merah, saat ia masih jadi pangeran, pekertinya cukup baik. Setelah menjadi Fir’aun, ia berubah menjadi kejam.

3. Pareamon, Yes, Haman, dan Karun adalah teman kecil yang dididik bersama di akademi militer kerajaan Mesir.

Karun yang super kaya dan sekarang diabadikan dalam kalimat “harta karun” ternyata sahabatnya Pareamon dan Yes’a. Haman yang licik juga ternyata dulunya BFFan sama Pareamon, Yes’a dan Karun. ((((BFF))))

4. Kejahatan bukan hanya berada di istana, tapi juga sampai ke rakyat miskin.

Rakyat-rakyat mesir hidup sengsara karena diperintah oleh istana untuk selalu membangun piramida, makam-makam, dan gedung-gedung mewah. Mereka tidak digaji, tidak diberi makan, tetapi disiksa jika bekerja tidak serius. Tak jarang kematian menimpa mereka saat bekerja.

Anehnya, mereka tidak merasa ditindas. Mereka merasa itu hal yang wajar. Jatohnya mereka jadi sering cari perhatian ke pihak istana dengan cara melapor kejahatan yang terjadi disekeliling mereka. Seorang suami istri bisa bermusuhan karena istrinya melapor bahwa suaminya tidak setuju aturan istana. Begitupun tetangga, adik-kakak, saudara, bahkan anak dan orang tuanya. Mereka haus akan perhatian kerajaan–yang padahal tidak memberi apa-apa.

5. Yes’a sangat sangat sangat kesepian.

Masa kecilnya berakhir saat ia menikah mengenakan topeng kucing bastet yang cantik dan duduk di singasana burung ibis. Dengan Pareamon disampingnya. Awalnya mereka baik-baik saja, sampai kerajaan Mesir menjadi kesibukan Pareamon dan penasehatnya, Haman. Yes’a hanya bercita-cita satu hal sejak kecil: pulang kerumah. Ia kira rumahnya adalah saat ia bersama Pareamon dan anak-anaknya. Tetapi pareamon semakin lama semakin tidak ada waktu untuk Yes’a. Ditengah gelimang harta, tahta, dan segala hal hal duniawi yang ada didepan mata, tapi Yes’a selalu merasa sendiri karena sama sekali tidak punya teman. Tapi kelak ia memiliki 2 abdi setia dengan pemahaman sama dengan dirinya.

Belum lagi Pareamon yang memiliki banyak selir, dan sering berpesta pora dimalam hari. bahkan ia sempat berniat menikahi Ratu Utara untuk memperluas kekuasaan. Gak kebayang sedih banget pasti jadi Yes’a.

6. Kerajaan mesir itu keren banget.

Si penulis mendeskripsikan kerajaan mesir dengan waw banget. Selalu ada patung burung ibis, kucing, dan cerita mengenai dewa-dewa dan simbol-simbol mesirnya memang bikin pengen bilang waw. Juga dekorasi kerajaan, pembangunan makam, dan piramida-piramida. Belum lagi upacara-upacaranya. Mulai dari pernikahan raja dan ratu, sampai hari saat Pareamon dimakamkan. Kesannya keren banget meskipun serem juga.

7. Pareamon membolehkan Asiyah bawa bayi lelaki dari sungai nil karena ingin melihat Asiyah senang.

Pareamon bisa saja membunuh Musa saat itu dan mengikuti nasihat Haman yang nyuruh ngebunuh. Tapi demi melihat Yes’a yang selalu sedih menjadi wanita yang kembali ceria saat menggendong bayi membuat Pareamon tidak mau membunuh Musa. Padahal ia tau Musa akan mengancam kerajaan Mesir.

8. Akhir hidup Yes’a adalah saat setelah pertarungan Musa dengan Firaun.

Firaun disini sudah bukan Pareamon, tetapi Yes’a masih berkuasa sebagai Ratu. Firaun membunuh para tukang sihir yang masuk Islam, termasuk membunuh abdi Yes’a. Yes’a yang melawan perkataan Firaun saat itu dibawa ke penjara. Dan tak lama kemudian, ia diikat, lalu dibakar.

9. Firaun tidak peduli dengan agama siapapun.

Sewaktu ia masih jadi pangeran, ia pernah ngobrol dengan Yes’a tentang agama. Yes’a mengakui ia masih percaya dengan satu Tuhan sejak ia kecil, yaitu Tuhannya Nabi Yusuf. Pangeran merasa bodo amat. Tapi saat ia sudah jadi Firaun dan Musa mengancam kerajaannya, ia mulai sangat berhati-hati dan membunuh semua pengikut Satu Tuhan, Tuhannya Nabi Yusuf. Intinya, dia membunuh siapapun yang mengancam kedudukannya. Seperti hari ini.

10. Saat Yes’a, Ra, Ha, dan Ka (karun) kecil, mereka berasal dari kerajaan Mesir yang masih mempercayai Tuhan yang Satu, Tuhan Nabi Yusuf. Tetapi Raja dilawan oleh rakyatnya, sehingga kerajaan itu hancur dan anak-anak kerajaan dibawa ke akademi militer sebagai persiapan untuk kerajaan mesir baru kelak, yang menuhankan banyak tuhan.

Secara keseluruhan, kisah Asiyah itu meliputi kesepiannya ditengah gemerlap kerajaan, perlawanan bathinnya saat suaminya sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat, ratu yang dicintai rakyat karena sering berbagi dan menolong mesir, kecintaannya pada Musa yang hadir ditengah kesepian hidupnya, kekuatan akidah yang tertancap dalam hatinya kepada Tuhannya Nabi Yusuf, meski ia harus menanggalkan mahkota, dipenjara, bahkan dibunuh oleh Firaun itu sendiri.

Judul buku ini adalah: Asiyah, Sang Mawar Gurun Firaun.

Karya Sibel Eraslan.

Cerita lengkapnya baca aja

20160528-073218 AM.jpg

Please follow and like us:
0