Mengikuti serial Reply 1988 karena ceritanya ringan, sangat relate dengan kehidupan siapapun karena hikmahnya mendasar, dan latarnya bukan di kehidupan bising seperti hari ini, tapi di tahun 1988 ketika belum mengenal smartphone. Ketika orang pasti menepati janji dan tidak bisa membatalkan di sepuluh menit terakhir. Ketika cara berkomunikasi dengan orang jauh hanya dengan surat.

Tahun tahun lalu aku pernah menemukan kaleng-kaleng di bawah kasur orang tuaku, yang ternyata isinya adalah surat-surat ketika ibuku masih muda dulu. Aku baca satu persatu. Bener-bener banyak sekali surat dari teman teman mama yang menyukai beliau. Dengan kalimat-kalimat yang kalo jaman sekarang disebut indie. Tapi keren, orang jaman dulu sepertinya hampir semua orang punya sense menulis sastra dengan bagus, entah mereka lelaki atau perempuan. Mama juga membalasnya dengan kalimat yang indah, sekalipun isinya penolakan dengan tinta merah. Ada juga surat dari sahabat-sahabatnya, nanya kabar keluarga, dan ngasih info tentang kondisi dia.

Menurutku itu jadi sesuatu yang unik. Hal mendetail seperti cara menulis yang rapi, warna tinta, sisipan puisi dan pantun, cara berbahasa ga ada yang bahasanya ngasal seperti blog ini, semuanya seperti dipikirkan matang-matang dan niat banget! Tapi bukan berarti selalu mendayu-dayu, aku juga menemukan balasan-balasan dari mama yang tertulis dengan tegas dan jelas. Mungkin suratnya belum sempat dikirim saat itu.

Selain surat menyurat juga telepon. Aku hapal nomer telepon rumah temen-temen SD ku. Kadang kalo teleponan suka disadap orang rumah tapi aku sadar karena napasnya suka kedengeran lol. Pas pulang sekolah suka janjian untuk abis magrib teleponan.

Kalau boleh mundur lagi, waktu kecil kita juga nyamper temen langsung ke rumahnya. Malah kadang temen yang rumahnya jauh tiba-tiba kerumah. Kalau aku ada ya mereka masuk, kalo aku pergi ya mereka pulang lagi. Sekarang mah, orang udah depan rumah bukannya ngetok pintu malah miskol, ribet juga.

Pernah juga di masa modern tahun 2017 aku datang ke pameran pendidikan Australia dan kenalan sama kakak2 yang lulusan sana. Dia ngasih emailnya buat konsultasi, karena saat itu aku daftar di univ nya dia. Aku megang nomernya juga. Tapi kami konsultasi via email, bahasa agak baku tapi saling menyemangati dan berbagi info. Tiap ada email dari dia rasanya excited. Bukan karena suka sama orangnya tapi caranya seru aja, dijaman orang gampang buat ngewatsap, ini malah emailan yang ngebalesnya bisa lama, isinya panjang dan informatif. Berasa jadul, tapi ada kesenangan tersendiri.

Perbedaan jaman menjadi semakin maju dan tanpa sekat ini tentu bagus banget dan segalanya jadi mudah. Tapi ada sisi sisi kehidupan yang hilang juga. Seperti bagaimana menghargai orang, sekarang semua orang bisa terasa dekat walau realitanya jauh. Apalagi keberadaan medsos yang dirasa jadi tahu kondisi teman-teman dan kerabat, rasanya jadi ga perlu lagi untuk menghubungi orang-orang secara resmi karena kita sering lihat via layar kita. Seperti tidak ada batas, tapi sebetulnya itulah batas yang bikin jauh. Tidak ada lagi ikatan emosi dengan orang-orang yang dulunya dekat jika sekarang hanya sekadar saling tahu dirasa sudah cukup.

Aku juga begitu, beberapa teman terdekat misalnya, mereka melahirkan di bulan-bulan kemarin. Kalau dipikir ya harusnya kirim apa kek atau kalo sempet berkunjung, ini cuma ngucap sekalimat selamat doang. Malah ada juga yang ga aku ucapin, karena kayaknya sosmed terlalu too much. Tapi tetep aja aku si gabut mah maen sosmed mulu wkwkwk gak salah sih, toh sekarang banyak juga konten konten bagus. Bagus buat jualan maksutnya.