The Art of Listening

I listen to people and treat people the way I want to be treated. I imagine myself as someone who desperately need some talks, and I want someone respond me as I  listen to them.

Most times i didn’t receive the same treatment, but that’s fine. That’s life. That’s human.

In a nutshell, here’s what I learned from most people I’ve ever met about listening

  • They think world revolves only around them. In other words; self-centered. When we talk about our family for instance, they do not reply or ask about our topics, but it just reminisce them about their life. See. “People listen to reply”. Our talks only recalling their past. They don’t even want to know our story. So they cut the conversation by talking about theirselves.
  • They do not care. There’s a sparks when they talk. Look so delightful. But when it is our turn, the sparks gone. Their eyes on the phone, only respond by: really? hhmm? ya? then? Im sure 89% they don’t even listen.

And this is how I try to listen even i know i might not a good listener either:

  • Look right into their eyes. Not on the phone. It’s irritating.
  • Confirmation. I repeat their story by my words. Ask whether what I understand from their story is what they really feel.
  • Do not talk about ourselves. I put them as ‘the main character’ and I also imagine if I were in their shoes. I recalling my past and experience that related to that BUT I don’t talk about my life, I talk about how I feel about it (and so they are), and how I respond to that issues (as suggestion for them).

Well I also have bad behavior in terms of this listening-topic.

  • I can smell rejection and I know when people didn’t interested in me. I will easily cut my words in the middle my story, pretend like I didn’t talk at all. This is also how to prove whether they’re listening or not.
  • I am not gonna talking about myself unless I trust you (that you’re listening and not judging).
  • Well, the last one is so difficult and that’s why I write

like Lady Gaga said,

Nothing you say wouldn’t interest me
All of your words are like poems to me
It would be honored if you would take me as I am
( u sing u lose lol)

 

 

Kecuali aku

Semua yang kumiliki
bukanlah yang kupunya
Semua yang kujalani
bukanlah yang kumau

Aku adalah tiada
dalam setiap ada
Aku adalah tidak pantas
dalam setiap wajar

Kekuatanku hanyalah doa
yang mengiringku kesana kemari
Dengan itu aku melihat segala kebaikan
dan memasuki setiap kesempatan

Namun aku masih tiada

Setiap orang memasuki benakku
Kecuali aku

Setiap gerak kuperhatikan
Kecuali aku

Aku tidak punya apa apa
kecuali ketakutan

juga kekuatan
dalam setiap harapan
berbentuk doa

Aku selalu lemah dan kosong
Aku pendosa dan penuh salah

Kecuali aku
Kecuali aku
kalau disayang Tuhan

1.06 pm.
Mati lampu.

I know it

Nowhere di Lembang

Liburan kemarin biasanya keluarga kami langganan ke Anyer (sekalian ke rumah saudara2) namun tsunami membuat kami urung dan secara dadakan memutuskan: KE LEMBANG AJALAH!

Keputusan yang cukup berat, mengingat Lembang di hari weekend dan libur itu super macet dan harus penuh kesabaran. Kecuali kalau kita berangkat subuh. Positifnya, lembang itu deket. Negatifnya, kita udah sering. Tapi gapapa, masih banyak pilihan lainnya.

Namanya keluarga, tentunya suka ngaret. Janji jam 6 pergi, malahan jadi jam 10. Alhasil terjebak macet.

Hiburan keluarga di Lembang sungguh banyak sekali. Dimulai dari Dago dream park, floating market, the ranch, kampung gajah, dusun bambu, daan seterusnya. Tapi kalau udah masuk satu, rasanya yang lainnya tuh sama-sama aja. Kami nyari yang ga cuma foto-foto doang. Akhirnya memutuskan ke daerah mendekati Tangkuban Perahu. Yaitu Orchid Forest.

Lokasi yang terlalu atas dan terlalu macet. serta banyak jalan yang ditutup (heran, lembang ini kalau lagi padet malah banyak yg ditutup anehhh) membuat kita putus harapan, dan berkata: YOK LIAT MAPS MANA YANG PALING DEKET DARI SINI. Padahal baru keluar Dago gais :”)

 

Akhirnya makan disini

Dengan agak sedih tapi gimana lagi, kami turun dan menikmati tujuan liburan yang sebenarnya bukan tujuan. Kami pernah ke tempat ini beberapa tahun lalu. Tapi sekarang ternyata udah banyak improve! Suasananya menenangkan kami yang rungsing karena macet dan pengen pemandangan.

Perttama masuk, tempatnya dibagi kedalam berbagai cluster dan kami milih sebuah lokasi namanya kaanginan (kalo ga salah). Menu makananannya cukup variatif dan sekilas penglihatanku harganya masih wajar. Karena sebelumnya udah makan, jadi kami beli mie tek-tek goreng, mie tek-tek kuah, surabi polos dan kinca, kelapa, dan seterusnya (eh jd banyak). Rasanya semuanya cukup memuaskan sampe pada nambah mie tekteknya. Pelayanannya ga terlalu lama padahal di musim libur kan penuh banget ya.

 

Tiap daerah dihubungkan jembatan ini
*jadi pengen bernapas dalem2*

Kami berencana abis lurusin kaki mau lanjut ke orchid itu. Namun ternyata ada sebuat tulisan tersembunyi yang kami temui, tulisannya: Naik Perahu. Adik paling kecilpun excited. Ya, terserah dia saja. Akhirnya kami menelusuri tempat naik perahu itu.

Bisa naik perahu

Ternyata di perairannya (Sebutnya danau atau apa ya), ada beberapa resort-resort. Menariq nih buat kapan-kapan. Viewnya berasa di Amazon meskipun belom pernah.

Foto keluarga minus Nayra karena lagi duduk di depan perahu kaya Moana

Apakah kamu mau tahu berapa bayarnya?

“seikhlasnya”

Biaanya kalo jawabannya begitu malah jadi jebakan. Ngasih besar takut sayang, ngasih kecil juga gak enak. Dilematisme yang sungguh menyiksa.

Jalan menuju perahu

Bagi aku pribadi, ini cukup worth it. Mulai dari makanannya yang rasanya enak, pelayanan yang cepat, viewnya yang macem-macem dan kaya Amazon, serta kelihatannya sih resortnya juga bagus, Bisa dipertimbangkan kalau kamu sedang kejebak macet karena masih di daerah bawah deket Bandung. Tempatnya adalah…………..

Sapu lidi!

Sapu lidi! Yang udah berdiri sejak lama, jauh sebelum wahana dan tempat-tempat liburan di Lembang berjamuran.

Selanjutnya, entah kenapa sejak ninggalin Bandung aku ngidam ingin nafas di Punclut. Sebagai anak perantau, akhirnya dikabulkan. Kalo aku ga merantau ga akan keturutan keinginan iniii :”) Akhirnya kami segera meluncur ke daerah Ciumbuleuit. Setelah lihat maps, aamaaan tidak ada kemacetan!

Parkir dulu. Keliatan padet karena jalanan kecil

Desember januari adalah bulan-bulan ketika langit lagi bagus-bagusnya. Begitupun saat itu. Rasanya semua capek luruh bersama kerinduan akan bandung dan rumah. Kalo kamu ga paham, aku juga, hehe.

kalau ga pergi jauh, aku ga tahu bagaimana bahagianya ketika datang

Pemandangan seperti ini bisa kamu lihat dimana aja. seperti di Awiligar (aku dan temen-temen Rosh sering kesana). Tapi Punclut ini rasanya seperti memainkan memori yang lebih. Karena dimulai sejak kecil, aku sering kesini sama nenek. Lalu setelah besar, kesini sama teman-teman. Dan seterusnya.

Terima kasih bandung, tunggu aku lagi!